Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

OECD: Ekonomi Indonesia Hadapi 4 Ganjalan Struktural

OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) mengingatkan Indonesia menghadapi tantangan 4 tantangan untuk menjaga kinerja ekonomi jangka panjang.

Bisnis.com, JAKARTA – OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) mengingatkan Indonesia menghadapi tantangan 4 tantangan untuk menjaga kinerja ekonomi jangka panjang.

Pertumbuhan Ekonomi Asean, China, dan India 2014-2018

No

Negara

Pertumbuhan

No

 Negara

Pertumbuhan

1

China

7,7%

7

Filipina

5,8%

2

Laos

7,7%

8

Vietnam

5,4%

3

Kamboja

6,8%

9

Malaysia

5,1%

4

Myanmar

6,8%

10

Thailand

4,9%

5

Indonesia

6%

11

Singapura

3,3%

6

India

5,9%

12

Brunei  

2,3%

Rata-rata Pertumbuhan Negara Berkembang Asia 6,9%

Sumber: OECD Development Center, 2013

OECD meprediksikan Indonesia memecahkan rekor pertumbuhan tercepat di antara 6 negara Asean (tidak termasuk Kamboja, Laos, Myanmar, Vietman/KLMV), dengan rata-rata pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 6% selama 2014-2018.

Derek Carneige, ekonom OECD, mengingatkan 4 tantangan struktural utama yang harus dibenahi Indonesia agar dapat mendongkrak prospek perekonomian dan pendapatannya dalam jangka panjang.

“Pertama, melakukan reformasi yang dapat menjadikan pendidikan lebih mudah diakses. Kedua, meningkatkan kemampuan dalam menanggulangi bencana alam. Ketiga, mempercepat reformasi jaringan pengaman sosial, terutama terkait sistem pensiunan. Keempat, meningkatkan daya saing,” ujarnya dalam paparan outlook ekonomi global yang diluncurkan di Kementerian Keuangan RI hari ini, Kamis (5/12/2013).

Indonesia diprediksi memecahkan rekor pertumbuhan tercepat di antara negara Asean-6 (tidak termasuk Kamboja, Laos, Myanmar, Vietman/KLMV), dengan rata-rata pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 6% selama 2014-18.

Menyusul di belakang RI adalah Filipina dengan level pertumbuhan jangka menengah 5,8%. Estimasi itu jauh lebih tinggi dari pencapaian kedua negara sebelum krisis global 2008, yang mana Indonesia mencetak rata-rata pertumbuhan 5,1% pada 2000-07 dan Filipina 4,9%.

Menurut analisis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), kekuatan Indonesia dan Filipina ditopang oleh kencangnya permintaan domestik, belanja infrastruktur, serta implementasi reformasi ekonomi struktural.

OECD juga melaporkan prospek negara berkembang Asia untuk jangka menengah masih tetap baik, dengan laju pertumbuhan mendekati 7% dalam 5 tahun ke depan.

Meski masih berada pada level yang cukup kuat, pertumbuhan negara berkembang Asia pada 2014-18 lebih rendah dari pencapaian 8,6% pada periode 2000-07, sebelum krisis finansial global. Tren moderasi itu terutama dipicu oleh perlambatan China dan India.

PDB riil China dalam jangka menengah akan melambat menjadi sekitar 7,7%, dibandingkan dengan 10,5% dalam 7 tahun pertama dekade 2000-an. Sementara itu, India melambat ke level 5,9% dari 7,1% sebelum terjadi krisis global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor : Sutarno
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper