Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perdagangan Beras Antarpulau Turun, Apakah Ada Impor Ilegal?

Kalangan pelaku usaha mengindikasi adanya impor ilegal beras seiring menurunnya realisasi perdagangan antarpulau pada tahun ini.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 25 November 2013  |  00:19 WIB
Perdagangan Beras Antarpulau Turun, Apakah Ada Impor Ilegal?
Penggilingan beras - Bisnis.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) menduga ada impor beras ilegal, karena realisasi perdagangan antarpulau pada tahun ini turun.

Ketua DPD Perpadi DKI Jakarta Nellys Soekidi mengatakan sepanjang tahun ini permintaan beras dari daerah yaitu untuk perdagangan antarpulau cenderung menurun.

“Secara logika, setiap tahun permintaan seharusnya naik, karena penduduknya juga bertumbuh, tidak mungkin mereka mengurangi konsumsi beras. Penurunan ini diindikasi, karena ada impor beras selundupan dari Thailand atau Vietnam,” kata Nellys kepadaBisnis, Jumat (22/11/2013).

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan realisasi perdagangan antarpulau di Pasar Induk Beras Cipinang periode Januari-November 2013 turun 22% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Realisasi perdagangan antarpulau Januari-November 2013 sebanyak 161.676 ton, sedangkan tahun sebelumnya mencapai 207.975 ton. Hal tersebut membuat stok beras di gudang PIBC pada November 2013 naik 34,71% dibandingkan dengan November 2012.

Dia menambahkan harga beras impor ilegal dari kedua negara tersebut lebih rendah dibandingkan harga beras dalam negeri. Jika harga rata beras nasional Rp7.300 per kilogram, beras impor selundupan dengan kualitas yang sama di jual Rp6.500-Rp7.000 per kilogram.

Adanya disparitas harga tersebut, lanjutnya, membuat konsumen lebih memilih membeli beras impor ilegal. Alhasil, permintaan beras dari Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) untuk antarpulau berkurang.

Nellys menuturkan penurunan permintaan tersebut menyebabkan penurunan pasokan PIBC dari sentra beras di beberapa daerah. Pasokan rata-rata beras ke PIBC pada November 2013, sebesar 2.113 ton per hari, turun 9,93% bila dibandingkan dengan November 2012.

Pihaknya berharap pemerintah bisa mengawasi dan menindak peredaran beras impor selundupan karena akan berisiko menurunkan serapan dari petani. Selain itu, peredaran tersebut bisa menurunkan harga beras.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor beras
Editor : Sepudin Zuhri
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top