Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Petani Kakao di Bolaang Mongondow Genjot Produksi Kakao

Bisnis.com, BOLAANG MONGONDOW, Sulut - Asosiasi Petani Kakao Bukit Bogani menargetkan peningkatan produksi kakao di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara naik menjadi sekitar 4 ton per hektare pada 2017 dari kondisi saat ini sebesar 1,2 ton per
Roberto A. Purba
Roberto A. Purba - Bisnis.com 19 September 2013  |  18:28 WIB

Bisnis.com, BOLAANG MONGONDOW, Sulut - Asosiasi Petani Kakao Bukit Bogani menargetkan peningkatan produksi kakao di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara naik menjadi sekitar 4 ton per hektare pada 2017 dari kondisi saat ini sebesar 1,2 ton per hektare.

Wakil Ketua APKBB Roni Kobandaha mengatakan anggotanya terus mengembangkan teknologi pertanian guna memacu kualitas dan kuantitas hasil produksi.

"Kami sedang mengembangkan varietas unggulan, yakni Sulawesi I dan II, serta M01. Sejauh ini, produksi terus meningkat, sehingga diharapkan mencapai target dalam 4 tahun ke depan," katanya kepada Bisnis, Kamis (19/9/2013).

Asosiasi tersebut melingkupi petani kakao se-Bolaang Mongondow Raya. Khusus di Kabupaten Bolaang Mongondow, perkebunan kakao terbesar berada di Desa Konarom.

Dari data yang dihimpun asosiasi, luas areal tanam produktif kakao di desa tersebut mencapai sekitar 480 Ha saat ini. Total areal tanam di wilayah itu mencapai sekitar 700 Ha.

Selama periode Januari--Juli 2013, produksi kakao di desa tersebut tercatat mencapai sekitar 1.200 ton. Asosiasi, lanjutnya, telah menjalin kemitraan dengan sejumlah pihak agar kualitas dan kuantitas produksi menjadi semakin baik. "Kami punya mitra di Kendari guna mendorong produksi. Di wilayah kami, masih ada areal tanam yang bisa dimaksimalkan," ujarnya.

Risbian Pasi, anggota asosiasi yang juga petani kakao, mengatakan peningkatan produktivitas sangat mungkin terealisasi dengan dukungan teknologi. "Naik menjadi 4 ton per Ha bisa sangat mungkin tercapai. Bahkan, dengan teknologi yang tepat hasilnya bisa lebih dari itu," katanya.

Dia mengatakan sebagian besar petani di wilayahnya sudah mengembangkan kakao dengan alasan besarnya potensi pasar.

Menurutnya, permintaan kakao ke asosiasi cukup besar, sehingga tantangannya ialah meningkatkan produktivitas. "Seluruh produksi terserap oleh pasar di Makassar," katanya.

Risbian mengatakan selain Desa Konarom, ada sekitar empat desa lagi di Kabupaten Bolaang Mongondow yang sudah mengembangkan kakao.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertanian kakao
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top