Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

DAMPAK KENAIKAN UMR: Produsen Mamin Otomatisasi Produksi

JAKARTA--Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia Adhi S Lukman mengungkapkan sejumlah pelaku usaha mulai melakukan otomatisasi sebagai dampak kenaikan upah minimum untuk pekerja yang cukup tinggi."Beberapa pelaku industri
News Editor
News Editor - Bisnis.com 30 Januari 2013  |  07:17 WIB

JAKARTA--Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia Adhi S Lukman mengungkapkan sejumlah pelaku usaha mulai melakukan otomatisasi sebagai dampak kenaikan upah minimum untuk pekerja yang cukup tinggi.

"Beberapa pelaku industri mulai memikirkan otomatisasi, jadi yang tadinya manual berubah memakai mesin,"  ujarnya, Selasa (29/1) malam.

Kecenderungan untuk melakukan otomatisasi, menurutnya, disebabkan oleh kenaikan upah minimum reguler dan provinsi yang cukup tinggi.

Upah buruh yang tinggi diprediksi akan menyebabkan kenaikan biaya produksi, sehingga banyak pelaku usaha yang memilih untuk meningkatkan produktivitas melalui pengadaan mesin.

Menurutnya, kondisi demikian dikhawatirkan akan menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK). Namun, dia mengingatkan bahwa pengurangan tenaga kerja akan jadi pilihan terakhir yang diambil pengusaha.

"Kalau kapasitas produksi tetap tapi ditambah otomatisasi, kemungkinan akan ada pengurangan tenaga kerja. Kalau kapasitasnya meningkat dengan penambahan mesin berarti tidak ada PHK, tetapi produksi bisa meningkat. Pengurangan tenaga kerja tetap jadi pilihan terakhir,"  paparnya.

Adhi juga mengaku anggota asosiasi telah mengalkulasikan dampak kenaikan upah buruh, listrik, gas dan rencana pencabutan bahan bakar bersubsidi.

Hasilnya, kebanyakan industri makanan dan minuman menaikkan harga jual 10%-15%  tahun ini. Di antara produk makanan dan minuman yang sudah mengalami kenaikan harga  adalah produk makanan ringan dan minuman.

"[Kenaikan harga] Sudah dilakukan, sebagian sudah mengumumkan ke pasar, sebagian masih dalam rencana," ujarnya. (Antara/if)

GAPMMI menargetkan industri makanan dan minuman pada 2013 bisa tumbuh sekitar delapan persen. Nilai tersebut hampir sama dengan perkiraan total pertumbuhan industri makanan dan minuman sepanjang 2012.

Data dari Kementerian Perindustrian mencatat, hingga kuartal III 2012 pertumbuhan industri makanan dan minuman tumbuh 8,22 persen dengan nilai Rp712 triliun. "Perkiraan saya nanti finalnya Desember 2012 juga sekitar delapan persenan," kata Adhi. (Antara/if)
 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Newswires

Editor : Ismail Fahmi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top