Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

MINYAK NABATI: GIMNI Usulkan Struktur Bea Keluar Tak Diubah

JAKARTA--Kalangan industri minyak nabati Indonesia mengusulkan tak perlu ada perubahan struktur bea keluar minyak sawit mentah demi mendukung upaya penghiliran di dalam negeri.
- Bisnis.com 17 Januari 2013  |  06:56 WIB

JAKARTA--Kalangan industri minyak nabati Indonesia mengusulkan tak perlu ada perubahan struktur bea keluar minyak sawit mentah demi mendukung upaya penghiliran di dalam negeri.

Ketua Umum Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat M. Sinaga mengatakan investor yang telah menanamkan modal di bidang industri hilir kelapa sawit di Tanah Air memerlukan konsistensi kebijakan.

Menurutnya, penerapan bea keluar progresif untuk crude palm oil (CPO) sebesar 7,5%-22,5% dan 2%-11,5% untuk produk turunan CPO berhasil menarik investor rafinasi (refinery) ke Indonesia.

Sepanjang 2012, investasi di Indonesia mendekati US$1,02 miliar untuk industri rafinasi,special oils and fat dan oleochemical. Kapasitas rafinasi mencapai sekitar 25 juta ton (feedstock) CPO atau meningkat dari 20,6 juta ton pada akhir 2011.

“Selisih pajak ekspor RBD oils, seperti olein dan stearin, berkisar 5,5%-9,5% di bawah pajak ekspor CPO mampu memberikan competitive edge bagi produk hilir,” katanya kepada Bisnis di Jakarta, Rabu (16/1).

Dengan perbedaan pajak ekspor yang signifikan itu, biaya tambahan (extra cost) akibat beban angkutan, handling and loading cost di pelabuhan dan freight cost yang biasanya lebih mahal dibanding negara tetangga, dapat diatasi.

Sebaliknya, produk turunan sawit di Malaysia kalah bersaing dengan produk sejenis dari Indonesia dan menyebabkan kapasitas sebagian besar industri hilir berada dalam kondisiidle.

Utilisasi industri hilir negeri jiran menurun drastis dan kapasitas produksi refinery-nya selama bertahun-tahun tak bergerak dari 600-650 ton per hari atau jauh dari Indonesia yang kini 1.000 ton per hari.

Akibatnya, banyak CPO Malaysia tak terserap oleh industri dalam negerinya. Untuk mengatasi kelebihan pasokan (oversupply), mereka melakukan ekspor CPO dalam bentuk kuota dengan pajak ekspor 0% mulai kuartal II/2012, sedangkan di luar kuota dikenai pajak progresif 0,7%-22,7%.

Faktanya, tak ada pengusaha sawit Malaysia yang berminat mengekspor dalam bentuk CPO dengan pajak ekspor. Mereka memilih mengekspor produk hilir yang bebas pajak ekspor. (if)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Ismail Fahmi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top