Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

LNG: Pertamina Buka Opsi Impor Gas Alam Cair Dari Kanada & AS

JAKARTA: PT Pertamina (Persero) membuka opsi untuk mengimpor gas alam cair (LNG) dari Kanada dan Amerika Serikat untuk memenuhi pasokan gas tiga unit penampungan dan regasifikasi terapung (floating storage and regasification unit/FSRU).Direktur Gas Pertamina
News Editor
News Editor - Bisnis.com 11 Desember 2012  |  15:57 WIB

JAKARTA: PT Pertamina (Persero) membuka opsi untuk mengimpor gas alam cair (LNG) dari Kanada dan Amerika Serikat untuk memenuhi pasokan gas tiga unit penampungan dan regasifikasi terapung (floating storage and regasification unit/FSRU).Direktur Gas Pertamina Hari Karyuliarto mengatakan opsi impor tersebut karena belum mendapatkan kepastian pasokan gas dari dalam negeri, kendati impor gas dapat berdampak melonjaknya harga jual.“Kami berharap [pasokan gas] dari domestik. Kalau domestik sudah tidak bisa, ya kami ambil dari luar negeri dengan impor. Harga internasional itu kan pasti lebih dari harga domestik sekarang ini,” ungkapnya, Selasa (11/12/2012).Hari tidak terlalu mengkhawatirkan harga jual gas yang nantinya lebih tinggi, sebagai dampak dari impor LNG. Pasalnya, harga gas masih lebih murah US$10 per juta british thermal unit (mmbtu) dibandingkan harga solar industri.Menurutnya, pasokan gas akan menumbuhkan permintaan dari industri yang selama ini menggunakan gas. “Karena harga gas lebih murah dibandingkan solar industri. Jadi kalau masih pakai solar industri akan menjadi tidak efisien, otomatis masyarakat pasti mencari yang efisien,” jelasnya.Hari menjelaskan saat ini perseroan membutuhkan sekitar 800 juta kaki kubik per hari (mmscfd). Jumlah tersebut terdiri dari kebutuhan 200 juta kaki kubik per hari untuk FSRU Teluk Jakarta, 400 juta kaki kubik  untuk FSRU Jawa Tengah dan 200 juta kaki kubik untuk FSRU Arun.Selain membuka opsi impor LNG dari Kanada dan Amerika Serikat, sambungnya, Pertamina tengah menjajaki impor dari Timur Tengah dan Australia.Hari menjelaskan tantangan dari industri gas saat ini adalah infrastruktur yang belum memadai. “Kalau infrastrukturnya sudah terbentuk, entah itu receiving terminal atau pipanya, maka lapangan gas yang marginal pun bisa dikembangkan,” ungkapnya. (bas) 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Lili Sunardi

Editor : Aang Ananda Suherman

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top