PEMBANGUNAN SPBG: Pemerintah Tunggu Kepastian Regulasi Konversi Energi

JAKARTA—PT Pertamina  menunggu keseriusan pemerintah dalam melakukan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) sebelum mengembangkan stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) di Indonesia.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 11 Desember 2012  |  11:43 WIB

JAKARTA—PT Pertamina  menunggu keseriusan pemerintah dalam melakukan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) sebelum mengembangkan stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) di Indonesia.

Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan mengatakan pihaknya tidak ingin besar-besaran membangun SPBG Coco yang dikelola sendiri Pertamina, sampai ada kebijakan yang serius dari pemerintah dalam melaksanakan program konversi BBM ke BBG.

“Untuk pembangunan SPBG yang dari investasi kami, mungkin akan kami batasi 2 SPBG, kemudian kami lihat ini akan seperti apa. Saya tidak ingin Coco Pertamina seluruhnya untuk membangun SPBG sampai saya melihat kebijakan yang serius mau seperti apa konversi ke BBG nantinya,” katanya di Jakarta  Senin malam (10/12/2012).

Dia mengungkapkan Pertamina akan terus berkomitmen mendukung program pemerintah yang ingin melakukan konversi BBM ke BBG, meskipun ada anggaran APBN untuk pembangunan SPBG yang tidak bisa di cairkan. “Kami tidak mau ada persepsi kami menikmati over kuota [BBM bersubsidi], karena kami justru terus mencari alternatif lain,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Gas Pertamina Hari Karyuliarto mengatakan pihaknya siap membangun 261 SPBG dalam waktu 5 tahun kedepan, meskipun tidak mendapat sokongan dana dari APBN. 61 SPBG tersebut rencananya akan difokuskan di Jakarta, Surabaya, Medan, Palembang dan Makassar.

“Selain karena persoalan suplai gas, ada kajian kami yang menunjukkan 5 kota itu yang paling efisien untuk dibangun SPBG. Bandung sebenarnya efisien, tetapi itu kan bisa dikembangkan dan diambilkan dari jaringan yang ada di Jabodetabek,” jelasnya.

Menurutnya, SPBG yang akan dikembangkan itu nantinya juga akan dikerjasamakan dengan pihak swasta seperti yang dilakukan pada stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Pasalnya, pihak swasta masih dianggap sebagai pihak yang bisa mempercepat program konversi BBM ke BBG.

Untuk investasinya sendiri, Hari menyebut setidaknya membutuhkan dana sekitar Rp80 miliar untuk membangun mother station SPBG. “Investasi SPBG ini beragam. Rata-rata untuk membangun SPBG yang online itu Rp40 miliar, untuk mother station itu Rp80 miliar, daughter station Rp45 miliar, kemudian untuk transportasinya butuh Rp40 miliar,” ungkapnya.

Sebelumnya, Pertamina juga telah membuka SPBG Coco yang dengan investasi senilai US$3,7 juta. Pembangunan SPBG tersebut menggunakan pendanaan dari Pertamina, karena alokasi dari APBN tidak dapat dicairkan.

SPBG yang akan dikelola PT Pertamina Retail itu memiliki kapasitas 1 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) atau setara dengan 30 KLsp per hari. Rencananya, SPBG itu akan melayani pengisian bahan bakar bus Transjakarta koridor 1, koridor 3, koridor 8 dan koridor 9, serta 450 unit bajaj dan taksi. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Lili Sunardi

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top