Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BAKRIE sudah bisa bangun pipa gas Kalija I

JAKARTA- PT Bakrie & Brothers Tbk sudah bisa memulai melakukan pembangunan pipa transmisi gas Kalimantan-Jawa (Kalija) tahap 1 dari Lapangan gas Kepodang, Jawa Tengah ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Tambak Lorok.Hal ini ditandai dengan
Fajrin
Fajrin - Bisnis.com 10 Desember 2012  |  14:58 WIB

JAKARTA- PT Bakrie & Brothers Tbk sudah bisa memulai melakukan pembangunan pipa transmisi gas Kalimantan-Jawa (Kalija) tahap 1 dari Lapangan gas Kepodang, Jawa Tengah ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Tambak Lorok.Hal ini ditandai dengan penandatanganan Gas Transportation Agreement/GTA ruas Kepodang-Tambak Lorok antara pihak terkait yaitu PT Bakrie&Brothers Tbk, Petronas Carigali Muriah, Ltd, dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) yang ditetapkan oleh Badan Pengatur Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).“Setelah 7 tahun, hari ini akhirnya ditandatangani GTA ruas Kepodang-Tambak Lorok (Kalija Tahap 1). Setelah ini kami mulai fase pertama melakukan konstruksi,” kata Direktur Utama Bakrie & Brothers Bobby Gafur S Umar dalam konferensi pers usai penandatanganan GTA di kantor BPH Migas, Senin (10/12).Pemerintah melalui Menko Perekonomian telah menetapkan kebijakan pelaksanaan pembangunan Pipa Transmisi Gas Kalimantan Timur-Jawa Tengah pada 2005.Adapun biaya pengangkutan/penyaluran gas (toll fee) yang disepakati adalah sekitar US$ 37 sen atau US$0,37 per MMbtu. Nilai tersebut sudah dihitung berdasarkan keekonomian dan sudah dikombinasikan dari berbagai sumber potensial. “Toll fee di awal perhitungan US$37 sen per MMbtu. Mengenai ekskalasi itu pasti ada, nanti diatur oleh BPH Migas.”Bobby menargetkan pada kuartal empat 2014, gas sudah bisa dialirkan melalui pipa. Nilai investasi dari pipa sendiri sekitar US$ 175 juta. Sebelumnya, sambil menunggu GTA diteken, pihaknya sudah melakukan berbagai persiapan konstruksi, mulai dari menyelesaikan proses perizinan, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).“Dengan ini, awal tahun depan kami sudah mulai membangun, menyediakan pipa dan kosntruksi,” tambahnya.Adapun pipa yang akan dibangun merupakan pipa open access sepanjang 210 km. Menurut Bobby, dengan open access, maka pipa ini bisa dimanfaatkan oleh perusahaan migas yang ingin eksplorasi di sepanjang ruas Kepodang-Tambak Lorok. Diharapkan, akan ada dua sampai tiga sumber gas lain yang bisa dieksplorasi.Sementara itu, kapasitas pipa adalah sekitar 180-200 MMscfd. Namun, berdasarkan perjanjian antara Petronas Carigali Muriah Ltd dengan PLN gas yang akan dialirkan dari Kepodang sampai Tambak Lorok adalah sekitar 116 MMscfd.Meski begitu, tidak menutup kemungkinan gas yang dialirkan bertambah dengan menggunakan penambahan kompressor.Awal tahun 2013, lanjut Bobby, pihaknya akan mulai melakukan tender Engineering, Procurement and Construction (EPC) pipa.Diperkirakan akan ada empat kontraktor yang akan mengikuti tender. “Ada 4 kontraktor, kita sedang evaluasi. Ini baru bisa direalisasikan setelah GTA selesai,” lanjutnya.Dalam GTA disepakati harga gas ekitar US$4,61 per MMbtu. Dengan ditargetkannya pipa mulai bisa beroperasi pada akhir 2014, maka beban subsidi listrik pemerintah kepada PLN akan berkurang. Hal ini lantaran penggunaan gas akan menghemat anggaran energi primer PLN.Direktur Utama Indonesia Power, anak usaha PLN Djoko Hastowo mengatakan kapasitas PLTGU Tambak Lorok sekitar 1.000 MW. Pada Juli 2013 direncanakan akan ada gas yang masuk dari Lapangan Gundih sekitar 60 MMscfd dan dari Kepodang 116 MMscfd direncanakan pada akhir 2014.“Nanti yang pakai BBM kita matikan. Dengan masuknya gas ini, dari Lapangan Gundih dan Lapangan Kepodang, maka pasokan untuk PLTGU Tambak Lorok sudah mencukupi,” katanya.Adapun, penghematan yang bisa dilakukan PLN dengan penyaluran gas sebesar 116 MMscfd adalah sekitar Rp 1,8 triliun per tahun.Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng mengatakan toll fee yang sudah disepakati sebesar US$0,37 per MMbtu merupakan awal dan bisa berkembang nantinya sesuai dengan keekonomian.“Dari skenario awal bisa berubah. Kemudian, penandatangan ini merupakan bagian awal dari ruas Kepodang-Tambak Lorok. Kita harap pipa selesai di waktu yang direncanakan.”Setelah pembangunan pipa transmisi gas ruas Kepodang-Tambak Lorok sepanjang 210 km ini selesai, maka akan dilanjutkan pembangunan dengan ruas Kepodang-Bontang (Kalimantan) sejauh sekitar 1.000 km. Namun setelah ada kepastian pasokan gas-nya.Berdasarkan catatan Bisnis, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) berharap PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) bisa memenuhi komitmennya untuk menyelesaikan pembangunan ruas pipa Kepodang-Tambak Lorok tepat waktu, yakni pada akhir 2014. PLN sudah menandatangani kesepakatan dengan Petronas selaku pengelola Lapangan Kepodang, Blok Muriah di Laut Utara Jawa Tengah, terkait pasokan gas untuk pembangkit Tambak Lorok.Dalam kesepakatan tersebut terdapat ketentuan bahwa Petronas harus menjamin pengiriman gas dari  well head ke pembangkit.Nantinya, ada penandatanganan antara Petronas dan Bakrie Brothers yang menyatakan bahwa Bakrie Brothers akan menyiapkan pipanya. Namun menurutnya hingga saat ini belum ada pernyataan di atas hitam putihnya. Menteri ESDM Jero Wacik sudah menyetujui revisi Plan od Development (PoD) Lapangan Kepodang yang dikelola oleh Petronas Carigali Muriah Ltd selaku operator lapangan tersebut. Revisi PoD diperlukan karena skema pengembangan lapangan berubah dari hulu ke hilir. Setelah revisi PoD dilakukan, semestinya Gas Sales Agreement (GSA) dan Gas Transportation Agreement (GTA) sudah bisa ditandatangani.Sebelumnya, GTA sudah sempat disepakati dengan PT Bakrie & Brothers Tbk sebesar US$37 sen per juta Btu (MMBTU) dari semula US$84 sen per MMBTU, karena skema pengembangan Lapangan Kepodang beralih dari hulu ke hilir.Ketika itu, pihak Bakrie menjanjikan pembangunan pipa akan memakan waktu 22 bulan dengan perkiraan biaya US$135—US$145 juta. Sebelumnya pada 2008, PLN dan Petronas sudah menyepakati jumlah gas yang akan diproduksi yaitu 354 bcf, dengan jadwal gas masuk akhir 2011.Harga gas sudah disepakati di bawah US$5 per MMBTU dengan titik serah di pembangkit Tambak Lorok. Pengaliran gas dari sumur ke pembangkit akan dilakukan oleh Petronas. Namun pada 2010, pemerintah menyetujui usulan PT Bakrie & Brothers Tbk selaku pemenang tender pembangunan ruas pipa transmisi gas Kalija, agar pengaliran gas dari sumur ke pembangkit PLN itu dilakukan melalui pembangunan pipa transmisi gas Kalija tahap I, yakni Kepodang-Tambak Lorok. Hal ini menyebabkan mundurnya realisasi penyaluran gas ke PLN yang diperkirakan menjadi akhir 2014. (Bsi)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top