JAKARTA: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan cadangan devisa indoensia hingga akhir Juli 2012 masih tetap kuat, mencapai US$ 106,56 miliar, setara dengan 5,8 bulan impor plus pembayaran utang luar negeri.
“Dalam kondisi ketidakpastian global, cadangan devisa nasional memegang peranan penting. Posisi cadangan devisa kita tetap kuat,” ujarnya dalam Pidato Kenegaraan Pengantar RAPBN 2013 dan Nota Keuangan di gedung DPR/MPR, malam ini (16/8/2012).
Presiden mengatakan sentimen negatif yang bersumber dari ketidakpastian perkembangan perekonomian dunia, telah mendorong rupiah melemah terhadap nilai tukar dolar Amerika Serikat.
Sampai dengan bulan Juli 2012, rata-rata nilai tukar rupiah tercatat mencapai Rp9.241 per dolar Amerika, atau melemah sekitar 6,04%, jika dibandingkan dengan posisinya pada periode yang sama tahun 2011 yaitu rata-rata sebesar Rp8.715 per dolar Amerika. Kondisi serupa juga dialami oleh negara-negara lain. Penguatan dolar Amerika Serikat terhadap berbagai mata uang, nampaknya merupakan gejala global.
Presiden mengatakan di sektor moneter, tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI rate juga tetap dapat dikelola dengan baik oleh Bank Indonesia. Langkah ini untuk menjaga kepercayaan para pelaku pasar terhadap perekonomian di dalam negeri, mendorong pertumbuhan, dan menjaga inflasi. Berdasarkan situasi yang berkembang, sejak Februari 2012, BI Rate telah menurun 25 basis poin, dari 6% menjadi 5,75%.