Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PRODUKSI PERTANIAN: Pengembangan sorgum di Jabar rendah

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 22 Mei 2012  |  15:28 WIB

 

 

BANDUNG : Produksi sorgum, salah satu tanaman pangan alternatif pengganti beras, di Jawa Barat masih rendah. Dibutuhkan kepedulian pemerintah untuk membuka pasar agar produksi sorgum bisa digenjot.

 

Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat Uneef Primadi mengatakan sorgum dilirik menjadi salah satu andalan Jabar untuk memenuhi tugas sebagai lumbung pangan nasional.

 

Namun, produksi komoditi tersebut saat ini relatif masih rendah. "Produktifitas gandum di Jawa Barat masih rendah. Padahal potensi komoditas ini sangat besar apabila pemerintah serius untuk mengembangkannya," ujarnya kepada Bisnis hari ini, Selasa 22 Mei 2012.

 

Menurutnya produksi yang rendah adalah imbas dari keterbatasan pengetahuan petani terhadap sorgum. Petani belum mengenal teknologi budidaya serta pengolahan kedua komoditi tersebut. “Petani masih menganggap sorgum tidak menguntungkan karena kurang dapat bersaing dengan komoditas pertanian lainnya seperti jagung, kacang-kacangan dan sayuran,” katanya.

 

Soal lain, petani juga dihadapkan pada keterbatasan benih sorgum yang berkualitas atau bersertifikat. Akibatnya, produktivitas sorghum kurang maksimal karena belum diterapkannya teknologi budidaya.

 

Selain masalah produksi, lanjutnya, alat pengolahan sorgum menjadi tepung masih kurang tersedia ditambah petani juga kerap kebingungan dalam memasarkan hasil produksinya karena pasarnya yang masih belum terbuka. "Dari semua permasalahan tersebut, kami menganggap pemasaran menjadi hal yang paling penting karena jika pasarnya tersedia maka petani akan menganggap penting sorgum," katanya.

 

Pihaknya mencatat produksi sorgum di Jabar sebetulnya telah berlangsung sejak 2005 dengan realisasi hanya 87 kuintal dari lahan seluas 14 hektar yang tersebar di  Garut, Sukabumi, Ciamis dan Cirebon. Berikutnya, produksi kedua komoditi ini terus tumbuh pada setiap tahun berikutnya sebesar 75%. Namun pada 2011, laporan produksi sorgum terhenti dan karena tidak adanya dana dari pemerintah untuk memantau perkembangan sorgum.

 

Budidaya sorgum menurutnya potensial digarap petani Jabar karena merupakan tanaman pangan yang unggul. “Sorgum mampu hidup di lahan marginal atau lahan kering,” katanya. Menurutnya terdapat sekitar 8.992 hektare lahan terlantar di Jabar yang bisa dimanfaatkan sebagai lahan tanaman sorgum.

 

Dia berharap produksi sorgum akan terus ditingkatkan demi meringankan beban tugas pangan nasional kepada Jabar yang harus menyediakan 12,5 juta ton padi. "Kalau dari padi pasti repot sehingga perlu dibantu tanaman palawija lainnya seperti gandum, sorgum, jagung dan lainnya," tuturnya.

 

Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan [KTNA] Jabar Oo Sutisna mengatakan produksi sorgum bisa digenjot dalam jumlah banyak jika serapan konsumsi dan pasarnya seimbang. “Ini menjadi salah satu cara membudidayakan makanan organik, apalagi harganya lebih murah dibanding beras,” katanya.

 

Sorgum juga menurutnya mudah untuk dikembangkan karena sangat efisien biaya produksinya. “Tanaman ini dapat cepat tumbuh tanpa terlalu dibantu pupuk kimia dan relatif tahan serangan hama dan penyakit,” katanya.

 

Kementerian Pertanian sendiri merilis rata-rata produksi sorgum secara nasional hanya sekitar 4.000 - 6.000 ton/tahun. Selain itu daerah penanaman sorgum tersebar di berbagai daerah yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur (NTT). (msb)

 

BERITA FINANSIAL PILIHAN REDAKSI:

  • TOPIK AKTUAL PILIHAN REDAKSI:

ENGLISH NEWS:

 

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : RINGKANG GUMIWANG/ /WISNU WAGE

Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top