PASOK SINGKONG: Surplus tapi masih impor

 
Yeni H. Simanjuntak | 17 April 2012 19:57 WIB

 

JAKARTA: Kendati produksi ubi kayu (singkong) surplus setiap tahun, impor komoditas itu terus berlangsung setiap tahun rerata 146.055 ton selama periode 2000-2011.
 
Data Kementerian Pertanian mencatat rata-rata produksi ubi kayu 2000-2011 sebesar 19,92 juta ton setiap tahun, sedangkan kebutuhan rerata 12,14 juta ton setiap tahun, sehingga rata-rata surplus setiap tahun 7,9 juta ton. Impor singkong pada tahun lalu 98.023 ton.
 
Maman Suherman, Direktur Budidaya Aneka Kacang dan Umbi Ditjen Tanaman Pangan Kementan, mengatakan impor singkong dilakukan pada saat tidak ada panen di dalam negeri dan sebaliknya pada saat musim panen, maka singkong lokal tersebut diekspor ke berbagai negara.
 
"Kita ada impor [singkong], pada saat produksi tinggi, panen tinggi, kita ekspor. Saat produksi kita kosong, kita ada impor," ujarnya seusai Diskusi Publik Mengangkat Gengsi Singkong Untuk Memantapkan Ketahanan Pangan, hari ini.
 
Dia menjelaskan musim panen singkong terjadi pada Juli-September. Sementara itu, produksi ubi kayu rendah pada periode Januari-Februari, sehingga impor didatangkan dari Thailand.
 
Menurutnya, produksi singkong pada tahun lalu mencapai 24,9 juta ton naik 0,4% dibandingkan dengan tahun sebelumnya 23,9 juta ton.
 
Dia menuturkan stratgi peningkatan produksi singkong melalui perluasan areal, koordinasi dengan pemerintah daerah. Menurutnya, Korea Selatan meminta pasokan singkong asal Indonesia. "Kita memberdayakan masyarakat lokal. Minat konsumsi ubi kayu, menciptakan produknya," jelasnya.
 
Luas areal singkong, katanya, terus menurun, karena ada kompetisi dengan komodits lainnya seperti jagung, kelapa sawit, padi gogo, dan komoditas lainnya. Namun, kendati luas areal turun, tetapi produksi meningkat, karena produktivitas singkong juga meningkat.
 
Maman menuturkan konsumsi masyarakat terhadap ubi kayu terus turun dari tahun ke tahun. "Kontribusi ubi kayu nyaris hilang digantikan dengan terigu. Konsumsi terigu naik 500%, sedangkan konsumsi singkong turun."
 
Sementara itu, potensi lahan untuk pengembangan ubi kayu sangat besar yaitu lahan tidur 5,84 juta ha dan lahan sawah tadah hujan 1,18 juta ha. Produktivitas ubi kayu, katanya, juga masih dapat dinaikkan hingga 50%.
 
Menurutnya, persoalan pengembangan produksi singkong yaitu kepemilikan lahan dalam skala kecil, dukungan pemasaran masih lemah, teknologi pascapanen belum optimal, harga tepung singkong masih kurang bersaing dibandingkan dengan tepung terigu.
 
Pemerintah, katanya, menargetkan produksi singkong pada 2014 mencapai 27,6 juta ton dengan luas tanam 1,5 juta hektare. Pada tahun ini, pihaknya menargetkan produksi ubi kayu sebanyak 25 juta ton.
 
Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) Suharo Husein menilai komoditas ubi kayu di Tanah Air sulit berkembang jika tidak ada dukungan dari pemerintah yaitu dengan memasukkan menjadi komoditas strategis seperti beras, kedelai, dan gula.
 
Padahal, potensi singkong, katanya, sangat besar, karena masih banyak lahan tidur yang masih dapat dimanfaatkan.
"MSI akan memanfaatkan lahan tidur bekerja sama dengan pemerintah daerah. Iklim dengan lahan cocok, mendukung sekali" ujarnya.
 
Dia menuturkan produktivitas ubi kayi saat ini masih rendah hanya 19,5 ton per ha. Padahal, ada varietas singkong darul hidayah dengan produktivitas mencapai 100 ton per ha. "MSI mengusulkan untuk menetapkan singkong sebagai komoditas strategis. Omong kosong kita bicara singkong. Singkong adalah komoditas strategis. Kalau tidak ada anggaran, maka tidak akan jalan."
 
Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan Achmad Suryana mengatakan pihaknya menginginkan masyarakat mnurunkan konsumsi beras dan terigu, dengan meningkatkan konsumsi pangan lokal seperti singkong.
 
Pola makan konsumsi masyarakat, katanya, harus beragam, sehingga konsumsi beras turun dan konsumsi terigu tidak akan mengalami kenaikan.
 
Menurutnya, untuk mendorong diversifikasi konsumsi pangan, maka perlu untuk merubah cara berfikir masyarakat untuk mengkonsumsi makanan yang beragam. (sut)

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top