BENIH PADI UNGGUL sulit diakses petani

 
Yeni H. Simanjuntak
Yeni H. Simanjuntak - Bisnis.com 11 April 2012  |  20:07 WIB

 

JAKARTA: Masih banyak petani yang belum menggunakan benih padi unggul akibat sedikit akses bagi mereka untuk memperoleh benih unggul tersebut.
 
Kebutuhan benih padi secara nasional diperkirakan mencapai 330.000 ton setiap tahun. Bantuan langsung benih unggul setiap tahun hanya sekitar 65.000 ton. 
 
Produksi benih padi dari PT Sang Hyang Seri dan PT Pertani sekitar 175.000 ton setiap tahun yang dijual secara komersial kepada petani. Sisanya sekitar 90.000 ton benih padi diproduksi dari penangkar swasta dan petani sendiri. 
 
Direktur PT Pertani Mawardi mengatakan persoalan utama yaitu masih banyak petani yang belum menggunakan benih unggul. Padahal, kualitas benih tersebut, katanya, berkorelasi positif dengan produktivitas.
 
"Masih banyak petani yang menggunakan benih yang sudah lama dipakai, padahal sudah ada benih unggul baru, karena mereka tidak mengetahui. Ini sangat berpengaruh pada produktivitas padi," ujarnya kepada Bisnis  hari ini.
 
Kebutuhan benih padi per hektare sekitar 25 kg. Data Badan Pusat Statistik mencatat areal pertanian saat ini 8,1 juta ha, sedangkan luas panen pada tahun lalu 13,2 juta ha dengan produktivitas rerata 4,98 ton per ha.
 
Dia mencontohkan untuk lahan kering, maka petani harus menggunakan benih padi yang tahan kering dan sebaliknya untuk areal sawah yang rentan dengan banjir. "Namun, masih banyak petani yang menggunakan benih tidak sesuai dengan kondisi lahan."
 
Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, kebutuhan benih padi pada 2015 mencapai 349.000 ton. Jawa Timur sebagai salah satu sentra produksi gabah, diperkirakan membutuhkan benih padi sekitar 7.304 ton setiap tahun.
 
Saat ini, kebutuhan benih padi nasional banyak di produksi oleh perusahaan penangkar benih swasta, karena PT Sang Hyang Seri dan PT Pertani yang telah ditugasi sebagai penanggung jawab penyediaan kebutuhan benih nasional belum mampu memenuhi permintaan yang ada.
 
PT Petrokimia Gresik ikut menggarap pasar benih di Tanah Air dengan memproduksi benih padi petroseed. Petrogres bekerja sama dengan kelompok tani dan petani penangkar di beberapa daerah potensial penghasil padi di Jawa Timur.
 
 Ilham Setiabudi, Sekretaris Perusahaan Petrogres, mengatakan kemitraan dengan petani dilakukan dengan cara Petrokimia Gresik hanya membeli gabah kering dari petani dan kelompok tani penangkar benih curah untuk diproses dan dikemas.
 
Menurutnya, perseroaan itu juga menggunakan benih itu dalam program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan berbasis Korporasi (GP3K) di Kabupaten Madiun dengan luas areal tanam 63.620 ha.
 
Dia menuturkan perusahaan itu menargetkan produksi benih padi pada tahun ini sebanyak 5.000 ton dengan lokasi penangkaran di Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan.
 
Ilham memaparkan benih menjadi komponen utama pencapaian swasembada pangan, karena benih yang digunakan akan sangat mempengaruhi hasil panen. 
 
"Penggunaan benih padi turunan non unggul oleh petani akan menyebabkan penurunan potensi hasil dan daya tahan tanaman padi terhadap hama dan penyakit," ujarnya.
 
Apalagi, penggunaan benih padi unggul dan bersertifikat, katanya, masih rendah. Pada 2009, lanjutnya, penggunaan benih unggul dan bersertifikat hanya 56%.
 
Dia menilai selama ini produksi benih padi unggul dan bersertifikat nasional belum bisa memenuhi kebutuhan benih nasional, sehingga petani sering mengalami kesulitan mendapatkan benih padi unggul dan bersertifikat.
 
Menurutnya, kebutuhan benih padi pada 2011 dengan luas areal tanam padi 13,2 juta ha, maka kebutuhan benih mencapai 330.610 ton. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top