Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PANGAN: KTNA khawatirkan stagnasi produktivitas pertanian

JAKARTA: Produktivitas komoditas pertanian yang stagnan dalam beberapa tahun terakhir ini dipastikan akan menjadi ancaman serius terhadap ketahanan pangan di Tanah Air, karena jumlah penduduk terus bertumbuh, sehingga kebutuhan pangan akan terus meningkat.Ketua
Yeni H. Simanjuntak
Yeni H. Simanjuntak - Bisnis.com 11 Januari 2012  |  18:03 WIB

JAKARTA: Produktivitas komoditas pertanian yang stagnan dalam beberapa tahun terakhir ini dipastikan akan menjadi ancaman serius terhadap ketahanan pangan di Tanah Air, karena jumlah penduduk terus bertumbuh, sehingga kebutuhan pangan akan terus meningkat.Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir mengatakan kekurangan beras pada tahun lalu sebanyak 2 juta ton, sehingga harus diimpor untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri."Ini akan menjadi ancaman serius, kalau tidak ada kebijakan spetakuler dari pemerintah. Jumlah penduduk terus bertambah sehingga permintaan pangan akan terus meningkat, tetapi produksi pangan stagnan," ujarnya kepada Bisnis, hari ini.Dia mencontohkan produktivitas padi pada beberapa tahun lalu mencapai 6-7 ton per ha, tetapi terus menurun dari tahun ke tahun. Rata-rata produktivitas padi pada 2010 sebesar 5,12 ton per ha turun menjadi 4,90 ton per ha pada 2011.Kendati penurunan produktivitas itu juga disebabkan oleh dampak perubahan iklim seperti kekeringan pada saat musim gadu dan kebanjiran pada saat musim rendeng serta serangan hama wereng.Produksi pangan tidak naik, tetapi jumlah penduduk terus bertambah, laju konversi lahan terus berlanjut mencapai 100.000 ha per tahun, kerusakan infrastruktur pertanian seperti jaringan irigasi."Jelas, Indonesia tidak sampai pada 2025 sudah minus 12 juta ton beras. Kalau tidak ada terobosan spetakuler seperti ekstensifikasi, teknologi, bantuan benih, maka ini menjadi ancaman serius."Dia menilai kebijakan pemerintah di sektor pangan bagus di atas kertas, tetapi tidak diikuti dengan implementasi yang baik.Winarno mencontohkan kesuburan tanah yang turun akibat penggunaan pupuk anorganikm sehingga perlu peningkatan pupuk organik.Namun, pelaksanaan anggaran Rp814 miliar untuk subsidi pupuk organik tidak dilaksanakan. Menurunya, ada tarik-menarik kepentingan antara Kementerian Pertanian dengan Kementerian Perdagangan dalam pelaksanaan subsidi pupuk organik Rp814 miliar tersebut. "Ini kan contoh yang tidak sesuai antara kebijakan dengan pelaksanaan."Laju permintaan pangan di Indonesia pada tahun lalu 4,87% dan pertumbuhan penduduk 1,5%, sehingga pertumbuhan suplai pangan sedikitnya 5%. Namun, realisasi produksi padi pada 2011 (berdasarkan angka ramalan III/BPS) turun 1,6%, produksi kedelai turun 4%, dan produksi jagung turun 6%.Winarno menilai produktivitas pangan masih dapat ditingkatkan jika pola pikir pemerintah dan legislatif sudah sama soal pentingnya pangan, sehingga kebijakan anggaran untuk sektor itu cukup besar. (faa)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top