Pemerintah belum putuskan sumber gas FSRU Jateng

JAKARTA: Pemerintah hingga hari ini masih belum memutuskan sumber gas untuk kebutuhan Floating Storage Regafisication Unit (FSRU) di Jawa Tengah. Padahal, FSRU tersebut dijadwalkan sudah bisa onstream pada kuartal II/2013.Dirjen Migas Kementerian ESDM
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 26 September 2011  |  14:46 WIB

JAKARTA: Pemerintah hingga hari ini masih belum memutuskan sumber gas untuk kebutuhan Floating Storage Regafisication Unit (FSRU) di Jawa Tengah. Padahal, FSRU tersebut dijadwalkan sudah bisa onstream pada kuartal II/2013.Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita Herawati Legowo mengatakan pemerintah belum memutuskan apakah akan betul-betul mengimpor gasnya 100%, jika tidak kunjung mendapat komitmen pasokan dari dalam negeri. “Untuk FSRU Jawa Tengah, kami belum memutuskan gasnya dari mana,” ujarnya melalui pesan singkat kepada Bisnis hari ini.Berdasarkan data Kementerian ESDM, pemerintah berencana membangun total 3 FSRU. Pertama, FSRU di Teluk Jakarta yang saat ini sedang dibangun dengan kapasitas penyimpanan 125.000 m3 LNG dan regasifikasi 500 mmscfd melalui pola sewa selama 11 tahun.FSRU Teluk Jakarta diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit Tanjung Priok dan Muara Karang milik PLN sebesar 400 mmscfd. Rencananya, FSRU itu mulai onstream paling cepat dibanding kedua FSRU lainnya, yakni pada kuartal I/2012.Sementara untuk pasokan LNG-nya, akan diambil dari Bontang sebesar 200 mmscfd. Ke depan, peningkatan pasokan LNG diupayakan sebesar 3,5 juta ton per tahun dan kapasitas penyerapan gas oleh PLN hingga 400 mmscfd.Kedua, FSRU di Belawan, Sumatera Utara dimana PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk dikabarkan siap membeli LNG dari Tangguh, Papua untuk memasok kebutuhan gasnya. FSRU itu rencananya onstream mulai kuartal III/2012. Adapun kontrak pembelian gas rencananya untuk 10 tahun dengan pasokan gas sebesar 140-200 mmscfd.Selain pembangunan kedua FSRU tersebut, pemerintah juga berencana membangun FSRU di Jawa Tengah yang rencananya akan onstream pada kuartal II/2013. Status proyek FSRU Jawa Tengah sendiri saat ini masih penyelesaian Feasibility Study dan pembebasan lahan.PLN membutuhkan pasokan gas 200 mmscfd di sana untuk bahan bakar pembangkit listrik di Tambak Lorok, Grati dan Gresik. Namun, Pertagas sebagai operator FSRU Jawa Tengah hingga hari ini belum juga diberi alokasi gas oleh pemerintah.Investasi yang dibutuhkan untuk proyek ini hampir mencapai US$700 juta, terdiri dari US$331,81 juta untuk FSRU dan US$321 juta untuk pembangunan pipa gas sepanjang 271 km dengan diameter 20-28 inchi yang terbentang dari Gresik ke Semarang.Sementara itu Kepala Divisi Humas, Sekuriti dan Formalitas BP Migas Gde Pradnyana mengatakan Pertagas bisa mencari sumber gas dari mana saja, tidak hanya dari kilang LNG domestik.Sebelumnya Direktur Operasi Pertagas Gusti Azis sudah menyatakan pihaknya terpaksa harus mengimpor gas 100% untuk kebutuhan FSRU Jateng jika tidak juga mendapat komitmen pasokan gas dari dalam negeri.Saat ini perseroan masih aktif menjajaki impor LNG dari Shell, Petronas dan Qatar Gas sebesar total 3 MTPA (juta ton per tahun). Pertagas menginginkan harga LNG di kisaran US$13-14 per mmbtu untuk kontrak jangka panjang hingga 15 tahun.Sekretaris Perusahaan Pertagas Eko Agus Sardjono menambahkan, penjajakan impor masih terus dilakukan dan perseroan masih belum memutuskan akan mengimpor gas dari mana. Yang jelas menurutnya, impor gas dari Qatar diperkirakan akan lebih mahal karena lokasinya yang lebih jauh, jika dibandingkan impor dari Shell yang memiliki unit bisnis di Australia dan Petronas di Malaysia.”Penjajakan dari mana-mana, kita juga menjajaki impor dari Rusia. Yang jelas bisnis LNG dari pengelolaan FSRU Jawa Tengah masuk dalam rencana pengembangan usaha Pertagas 2011-2015. Bisnis tersebut mencakup usaha niaga LNG, transportasi LNG, regasifikasi LNG, niaga gas hingga transportasi gas,” jelasnya. (Bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top