Jepang kembali lirik investasi di RI

JAKARTA: Setelah digoncang bencana gempa dan tsunami, Pemerintah Jepang kini kembali menjajaki investasi di Indonesia. Ketangguhan nilai tukar Yen terhadap goncangan krisis global diakui menguntungkan investor Jepang."Segi negatif dari peningkatan
News Editor
News Editor - Bisnis.com 22 September 2011  |  20:56 WIB

JAKARTA: Setelah digoncang bencana gempa dan tsunami, Pemerintah Jepang kini kembali menjajaki investasi di Indonesia. Ketangguhan nilai tukar Yen terhadap goncangan krisis global diakui menguntungkan investor Jepang."Segi negatif dari peningkatan nilai Yen tentu ada, tapi segi positifnya juga ada. Contohnya, dalam melakukan investasi di luar negeri dengan nilai tukar yang tinggi itu, tentu menguntungkan bagi pihak Jepang yang akan melakukan investasi, termasuk di Indonesia ini," ujar Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang Yukio Edano seusai bertemu Menteri Koordinasi bidang Perekonomian Indonesia Hatta Rajasa untuk membicarakan master plan proyek Metropolitan Priority Areas (MPA) Indonesia-Jepang, hari ini.Penguatan nilai Yen, menurut Edano, lebih tepat disebut sebagai pelemahan nilai Euro dan dolar Amerika, terus diawasi pemerintah Jepang. "kami dari pihak pemerintah mengawasi secara ketat terutama terhadap gerakan-gerakan spekulasi yang dilakukan di pasar keuangan," katanya.Pihaknya juga menyadari peningkatan nilai tukar Yen mempersulit bidang ekspor Jepang ke  luar negeri. "Tapi kami yakin, Jepang itu selama ini pernah mengalami hal yang sama di masa lalu, bukan hanya masalah nilai tukar tapi juga berbagai masalah bisa kami atasi dan kali ini pun saya yakin bisa kami lakukan," ujar Edano.Dalam investasi, tambah Edano, yang terpenting adalah komitmen sama-sama untung atau win-win commitment. "Tapi pada dasarnya kami ingin melakukan investasi di luar negeri secara win-win dengan berbagai negara," tegasnya.Masuknya investasi Jepang ini dinilai Menko Perekonomian sebagai sinyal positif bagi iklim investasi Indonesia. "Tidak seperti masa-masa yang lalu, di mana cukup lama Jepang tidak melirik kita. Sekarang terlihat sekali bagaimana Jepang melihat Indonesia," ujar Hatta. Dia juga mengapresiasi bagaimana modal investasi Jepang dapat bangkit paska bencana tsunami."Saya melihat semakin deras investasi Jepang ke Indonesia ini. apalagi kalau kita melihat paska tsunami dan sebagainya, Jepang melihat berinvestasi keluar, di negara-negara yang memiliki daya beli yang cukup kuat," ujar Menko.Hatta memaparkan sebuah kajian di Jepang yang memproyeksikan pada 2015 di Indonesia akan ada sekitar  100 juta penduduk yang berpendapatan diatas US$ 3000 per tahun. Selain itu, lanjut Hatta, Euro Monitor juga mencatat pertumbuhan masyarakat kelas menengah tercepat terjadi di Indonesia."Euro Monitor memperkirakan, pada 2020 penduduk yang berpendapatan antara US$ 6.000-10.000 itu 60an %. Atau ada 8-9 juta penduduk yang naik ke kelas menenga," papar Hatta. Inilah yang diyakini Menko sebagai salah satu daya tarik investasi Indonesia, market, daya beli dan sumber daya manusia yang besar."Dari sisi otomotif banyak sekali [yang ingin investasi], seperti Daihatsu, Toyota, Nissan, semua ingin menempatkan Indonesia sebagai production base," kata Menko.Sebagai gambaran, untuk proyek MRT Jabodetabek sebagai bagian dari master plan MPA, Jepang siap mengucurkan investasi hingga kisaran ¥ 600 miliar. Proyek ini diharapkan akan rampung paling lambat 2014 mendatang. (Ana Noviani/Bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Ana Noviani

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top