Pemanfaatan flora dan fauna direvitalisasi

 JAKARTA: Pemerintah akan merevitalisasi pemanfaatan flora dan fauna di Indonesia yang hanya menghasilkan pendapatan iuran pengusahaan Rp11 miliar pada 2010.Menhut Zulkifli Hasan mengatakan revitalisasi itu penting dilakukan karena potensi sumber
News Editor
News Editor - Bisnis.com 12 September 2011  |  18:56 WIB

 JAKARTA: Pemerintah akan merevitalisasi pemanfaatan flora dan fauna di Indonesia yang hanya menghasilkan pendapatan iuran pengusahaan Rp11 miliar pada 2010.Menhut Zulkifli Hasan mengatakan revitalisasi itu penting dilakukan karena potensi sumber daya alam Indonesia begitu luar biasa di kawasan konservasi hampir 20 juta ha. Revitalisasi itu dalam bentuk perubahan aturan yang menghambat pemanfaatan flora dan fauna. "Itu memberi kontribusi hanya Rp11 miliar per tahun. Kalah sama [Kebun Binatang] Ragunan. Ada sesuatu yang kurang tepat," kata Zulkifli seusai menutup musyawarah nasional Himpunan Asosiasi Pemanfaat Flora dan Fauna Indonesia sore tadi. Bila kawasan konservasi digali secara maksimal, penerimaan negara dari sektor pemanfaatan flora dan fauna diprediksi bisa mencapai triliunan rupiah. Zulkifli menargetkan tahun depan penerimaan iuran dari pemanfaatan flora dan fauna yang masuk ke Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Kemenhut dapat menyentuh angka Rp1 triliun.Dalam meningkatkan pemanfaatan flora dan fauna di penangkaran, Zulkifli menyarankan Kemenhut menganggarkan biaya itu dari Badan Layanan Umum Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan (BLU-Pusat P2H). Dia mencontohkan Jalak Bali yang tadinya tinggal 2 ekor, saat ini sudah hampir 100 ekor setelah ditangkarkan. Dengan penangkaran, jumlah flora dan fauna yang dapat dimanfaatkan dapat lebih banyak."Apa bisa BLU yang jumlahnya Rp3 triliun dapat digunakan untuk penangkaran? Dengan begitu kepunahan jenis satwa dapat kita hindarkan," tanyanya di depan para peserta musyawarah nasional.Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kemenhut Darori mengatakan penangkaran dapat dijadikan salah satu cara untuk memperbanyak flora dan fauna di Indonesia. Dia contohkan potensi ekspor anggrek dan burung di Indonesia sesungguhnya sangat besar kalau saja penangkaran dapat dilakukan secara optimal."Misalnya Jalak Bali ditangkarkan dulu kemudian dijual. Trenggiling juga bisa. Itu kalau ditangkarkan ya, bukan dari alam," ujarnya.Ketua Umum Himpunan Asosiasi Pemanfaat Flora dan Fauna Indonesia (HAPFFI) Koes Saparjadi mengatakan pihaknya akan mendorong agar para pelaku usaha menangkarkan flora dan fauna yang jadi komoditas jualnya. Dengan cara menangkarkan, selain bertujuan melestarikan sumber daya alam di Indonesia, juga menjaga keberlanjutan hidup bisnis pelaku usaha."Kalau tidak lestari tentu pengusaha atau pelaku bisnis sendiri tidak akan bisa berlangsung lama. Sumber daya alam habis, trenggiling sama sekali habis, bisnisnya pun berhenti. Yang penting pelaku usaha bisa tumbuh jadi kuat. Kalau kuat sumbangan kepada negara juga meningkat," katanya. (tw) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Gloria Natalia

Editor : Nadya Kurnia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top