Cuaca picu kenaikan harga kebutuhan pokok

JAKARTA: Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Subagyo mengatakan beberapa kebutuhan pokok kini mengalami kenaikan harga relatif tinggi akibat faktor cuaca. Curah hujan yang cukup tinggi memengaruhi panen beberapa kebutuhan pokok sehingga
Adi Ginanjar Maulana | 19 Desember 2010 14:00 WIB

JAKARTA: Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Subagyo mengatakan beberapa kebutuhan pokok kini mengalami kenaikan harga relatif tinggi akibat faktor cuaca. Curah hujan yang cukup tinggi memengaruhi panen beberapa kebutuhan pokok sehingga menyebabkan suplai bahan pokok itu kurang. Kekurangan suplai itu mrnyrbabkan harga menjadi terdongkrak naik. Harga barang kebutuhan pokok itu, menurut Subagyo, mengalami kenaikan bervariasi. Dia mencontohkan beberapa kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan di antaranya beras, gula, dan cabe merah dan keriting. Cabai merah dan cabai keriting bahkan mengalami kenaikan 30% dibandingkan dengan bulan lalu. Sementara gula pasir dan beras kini stabil di posisi harga yang tinggi setelah mengalami kenaikan perlahan dalam beberapa bulan terakhir. Sementara itu, harga kebutuhan pokok diperkirakan akan bergerak naik di atas 15% seiring dengan kenaikan permintaan terhadap barang kebutuhan pokok itu menjelang Natal dan Tahun Baru. Menurut Subagyo, sebagaimana tren-tren sebelumnya, permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru mengalami kenaikan 15-20%. Kenaikan ini, lanjutnya, tidak sebesar kenaikan permintaan menjelang Lebaran yang bisa mencapai 50%. "Dalam kondisi ini harga berpeluang naik ke level yang lebih tinggi, tapi tidak besar. Cuma yang harus diantisipasi adalah distribusi. Jangan sampai gangguan distribusi memicu kenaikan harga lebih tinggi," ujar Subagyo kepada Bisnis, hari ini. Subagyo menjelaskan masing-masing bahan pokok menunjukkan gejolak kenaikan yang berbeda-beda. Beras, misalnya, sebelum lebaran mulai bergerak naik dan tidak mengalami penurunan sampai setelah Lebaran. "Ditambah lagi musim tidak panen, jadi harga beras tetap bertahan stabil tapi di kisaran tinggi," ujarnya. Begitupula dengan gula. Mundurnya masa musim giling memengaruhi produksi gula di Tanah Air yang diprediksi mengalami defisit, sehingga harga bahan pokok tersebut terus mengalami kenaikan perlahan. Di sisi lain, menurut Subagyo, iklim diperkirakan masih belum pulih hingga Mei tahun depan. "Di tengah kondisi ini, apalagi permintaan juga meningkat maka yang harus dijaga adalah stoknya..Kalau distribusi terganggu, maka harga berpeluang tidak terkendali," ungkapnya. Subagyo menegaskan pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk memastikan jalur distribusi dari produsen hingga konsumen akhir tidak terhambat. Selain jaminan kepastian stok dan jalur distribusi, katanya, berbagai langkah pengamanan dari pemerintah tetap dilakukan seperti OP beras. Pelaksanaan OP beras oleh Bulog dinilai mampu menekan harga komoditas itu di pasar dalam negeri. "Bulog harus ekstra kerja keras. OP harus dilaksanakan semaksimal mungkin sehingga efektif menekan kenaikan harga beras di pasaran dalam negeri."Kementerian Perdagangan, lanjut dia, juga memberi kesempatan bagi pemerintah daerah untuk melakukan pasar murah bahan pokok tertentu.(msb)"Silahkan kalau mereka mengajukan, pemerintah akan memfasilitasi dari sisi pengadaan. Sementara ini sudah ada beberapa daerah yang merencanakan pasar murah," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top