Kapasitas produksi semen menyentuh 70,22 juta ton pada 2015

JAKARTA: Kapasitas produksi semen nasional pada 2015 diproyeksikan naik menyentuh 70,22 juta ton per tahun seiring konsumsi yang diproyeksikan terus menguat dengan pertumbuhan industri semen hingga 8% per tahun.Berdasarkan rencana kerja (timetable) Kemenperin
manda
manda - Bisnis.com 15 Desember 2010  |  12:34 WIB

JAKARTA: Kapasitas produksi semen nasional pada 2015 diproyeksikan naik menyentuh 70,22 juta ton per tahun seiring konsumsi yang diproyeksikan terus menguat dengan pertumbuhan industri semen hingga 8% per tahun.Berdasarkan rencana kerja (timetable) Kemenperin yang dilaporkan sembilan produsen di dalam negeri, kapasitas produksi akan didongkrak naik dari saat ini sebesar 52,32 juta ton per tahun.

Lima perusahaan semen hingga akhir 2010 ditargetkan merampungkan penambahan kapasitas produksi di berbagai wilayah di Indonesia, naik dari tahun lalu sebesar 47 juta ton. Ke-lima produsen nasional yang melakukan ekspansi tersebut yakni PT Semen Andalas Indonesia, PT Semen Padang, PT Indocement T.P, PT Semen Gresik Tbk dan PT Semen Tonasa.

Sampai 2015, total kapasitas produksi semen nasional meningkat 34,2% menjadi 70,22 juta ton per tahun. Dengan asumsi kebutuhan investasi sebesar US$10 juta untuk membangun pabrik berkapasitas 100.000 ton, maka penanaman modal untuk mengejar peningkatan kapasitas terpasang di 2015 diperkirakan US$1,79 miliar.

Ekspansi para produsen ini dimaksudkan untuk mengimbangi konsumsi konsumsi semen di dalam negeri yang diprediksi mencapai 65 juta-68 juta ton pada 2015, meningkat dari tahun ini yang diproyeksi sekitar 41 juta ton.

Pembangunan ini akan meningkatkan kapasitas produksi semen nasional pada 2013 menjadi 63 juta ton. Jumlah ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan semen dalam negeri yang mencapai 41 juta ton tahun ini, kata Menteri Perindustrian M.S Hidayat yang melakukan peletakan batu pertama pabrik Holcim, di Tuban, Jawa Timur, kemarin.

Holcim merealisasikan investasi sebesar US$450 juta untuk membangun pabrik baru berkapasitas 1,7 juta ton per tahun dan fasilits terpadu di Tuban, Jawa Timur, guna mendongkrak kapasitas produksi menjadi 10 juta ton. Pembangunan pabrik ketiga milik Holcim ini diharapkan rampung pada 2013, melengkapi dua fasilitas eksisting yang berkapasitas 8,3 juta ton per tahun.

Selain Holcim, beberapa produsen yang akan merealisasikan investasi pada tahun ini adalah PT Semen Gresik Tbk dengan kapasitas 2,5 juta ton, PT Semen Tonasa dengan kapasitas 2,5 juta ton dan PT Semen Andalas Indonesia (PT Lafarge Cement Indonesia) kapasitas 1,6 juta ton per tahun.

Selain itu, juga ada pemain lokal di Jember, Jawa Timur yakni Semen Puger yang berniat membangun pabrik berkapasitas 300.000 ton per tahun, dengan investasi sekitar US$30 juta untuk memasok pasar lokal daerah itu.

Dalam kesempatan itu, Hidayat mengharapkan adanya dukungan dari pemerintah daerah dan instansi terkait untuk membantu kelancaran pembangunan. Dia juga meminta produsen semen, termasuk Holcim untuk mengoptimalkan komponen lokaldalam pembangunan fasilitas pabrik, termasuk tenaga kerja dan kontraktor.

Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Urip Timuryono menegaskan konsumsi semen nasional mencapai 36,8 juta ton sampai November. Hingga akhir tahun ini, konsumsi semen diproyeksikan menyentuh 40,3 juta ton, naik 6% dibandingkan dengan tahun lalu.

"Sampai November, penjualan semen naik 6,6%. Wilayah Jawa masih mendominasi penjualan dengan pangsa pasar 53% atau sekitar 19,8 juta ton. Faktor utama pemicu pertumbuhan adalah pembangunan infrastruktur, sektor properti seperti perumahan dan perkantoran.

Sementara itu, CEO Bosowa Group Erwin Aksa sebelumnya menargetkan produksi semen perusahaan pada 2010 akan mencapai 2,5 juta ton. Dari angka patokan tersebut, sebanyak 1,9 juta ton merupakan hasil produksi pabrik di Maros dan sisanya sebesar 600.000 ton dari pabrik di Batam.

Erwin memproyeksikan konsumsi semen nasional pada 2011 naik sebesar 10%. Angka itu meningkat 3%-5% dari tren target pertumbuhan konsumsi semen nasional per tahun yang rerata berkisar 5%-7%. Pada 2010, konsumsi semen nasional ditargetkan naik 6%, menjadi sekitar 40 juta ton dibandingkan dengan 2009 yakni 38 juta ton.

"Semen itu komoditas yang terpengaruh oleh pertumbuhan perekonomian dan belanja APBN. Kami optimistis, dengan direvisinya Keppres 80/2003 tentang pedoman pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah, akan semakin mempercepat proses tender pembangunan infrastruktur," tegas Erwin.

Lebih lanjut, Urip menjelaskan harga energi yang selalu merangkak naik di Indonesia, mulai dari listrik hingga batu bara, menjadi salah satu tantangan yang dihadapi industri semen nasional sehingga memicu ongkos produksi menjadi naik.

Karakter industri semen yang padat energi telah mendorong produsen melakukan peningkatan efisiensi secara bertahap. Produsen semen sudah mulai mengambil langkah efisiensi seperti diversifikasi produk semen, menggunakan bahan bakar batu bara kalori rendah dan bahan alternatif lainnya, memanfaatkan panas terbuang dan efisiensi pemasaran.

Itu tantangan yang menyebabkan ongkos produksi naik, ini membahayakan untuk bersaing dengan luar negeri. Di dalam negeri, kalau naik satu naik semua, katanya.

Tantangan lain dalam pertumbuhan industri semen nasional, kata Urip, yakni peraturan pemakaian batu bara. Para produsen batu bara diharapkan dapat memenuhi pasokan, sebagai konsekuensi diterapkannya kebijakan pengutamaan pasokan batu bara ke dalam negeri.

Selain itu UU mineral dan panas bumi yang baru keluar, kemungkinan sedikit merepotkan industri semen. Kami berharap untuk industri semen ada pengecualian, karena di industri semen ini pabrik lebih mahal dari tambangnya. Saat ini sudah ada komitmen dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini, kata Urip.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top