Beban Proyek Kereta Cepat Whoosh Bakal Dinegosiasikan Ulang dengan China

Kementerian BUMN akan menegosiasikan ulang pembagian beban biaya tambahan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung dengan China. Pembahasan ini penting sebelum memperpanjang jalur ke Surabaya.
Presiden Prabowo Subianto menaiki moda transportasi publik Kereta Cepat Whoosh saat melakukan kunjungan kerja ke Bandung, Provinsi Jawa Barat, Rabu (6/8/2025) malam. BPMI Sekretariat Presiden/Laily Ratchev
Presiden Prabowo Subianto menaiki moda transportasi publik Kereta Cepat Whoosh saat melakukan kunjungan kerja ke Bandung, Provinsi Jawa Barat, Rabu (6/8/2025) malam. BPMI Sekretariat Presiden/Laily Ratchev
Executive Brief
  • Kementerian BUMN akan melakukan negosiasi ulang dengan China terkait pembagian beban cost overrun proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh.
  • Fasilitas pendukung proyek kereta cepat diusulkan menjadi milik pemerintah, sementara operasionalnya tetap dikelola oleh PT KAI.
  • Danantara Asset Management berencana merestrukturisasi utang PT KCIC sebagai bagian dari rencana kerja untuk menyelesaikan masalah keuangan proyek Whoosh.

* Executive Brief ini dibantu dengan menggunakan AI

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian BUMN menyatakan bakal ada negosiasi ulang dengan China terkait pembagian beban atas cost overrun dalam proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh yang digarap PT KCIC

Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan bahwa persoalan biaya tambahan proyek Whoosh dalam tahap negosiasi ulang dengan pihak China. 

“Isu daripada Whoosh itu salah satunya nanti ada negosiasi ulang. Bukan kami tentunya, tupoksinya dari kementerian lain,” pungkasnya saat ditemui usai Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI, Senin (15/9/2025).

Erick menjelaskan sesuai kesepakatan sebelumnya, fasilitas pendukung proyek kereta cepat akan diusulkan menjadi milik pemerintah. Namun, seluruh operasional kereta tetap dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI.

Sementara itu, perihal wacana perpanjangan jalur kereta cepat hingga Surabaya, Erick menyatakan masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut setelah struktur kepemilikan dan kerja sama dengan China diselesaikan.

“Apalagi, kami akan mendorong sampai nanti Surabaya. Artinya, struktur ini harus putus dulu sebelum kita dorong ke Surabaya,” ungkap Erick. 

Dalam pemberitaan Bisnis sebelumnya, Danantara Indonesia akan mengurai persoalan utang PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), selaku pengelola kereta cepat Whoosh yang sebelumnya sempat disebut sebagai ‘bom waktu’.

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengatakan bahwa penyelesaian utang kereta cepat Whoosh sudah masuk dalam rencana kerja PT Danantara Asset Management (Persero), holding operasional Danantara. 

Danantara Asset Management rencananya akan merestrukturisasi empat sektor bisnis BUMN, yakni maskapai penerbangan, infrastruktur manufaktur baja, proyek kereta api cepat dan sektor asuransi pada semester II/2025. 

“Ini sedang dijajaki, sedang kita lakukan penjajakan. Tentu akan kami bereskan proses itu,” kata Dony, di Smesco Indonesia, Jakarta, Jumat (22/8/2025).

Diketahui ada empat perusahaan negara yang tergabung dalam PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium dengan kepemilikan 60% saham KCIC.

Keempat perusahaan pelat merah tersebut adalah PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA), PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR), dan PT Perkebunan Nusantara I (Persero) (PTPN). 

Dony, yang juga menjabat sebagai Wakil Menteri BUMN, menambahkan persoalan utang KCIC juga sudah dibahas KAI dengan Komisi VI DPR RI. 

“Kemarin juga Dirut KAI sudah menyampaikan di DPR. Akan kami selesaikan segera dan termasuk ke dalam RKAP kita tahun ini,” ucap Dony.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menyampaikan perseroan tengah mempelajari berbagai kendala yang dialami, termasuk kereta cepat Whoosh yang disebutnya sebagai ‘bom waktu’.

“Terutama kami dalami juga masalah KCIC seperti yang disampaikan tadi memang ini bom waktu,” pungkas Bobby. 

Namun, ucapan Bobby langsung disela Wakil Ketua Komisi VI DPR dari Fraksi Gerindra, Andre Rosiade yang mengatakan bahwa KAI perlu berkoordinasi dengan Danantara untuk menyelesaikan permasalahan utang tersebut. 

Berdasarkan catatan Bisnis, Whoosh telah menelan biaya investasi hingga US$7,2 miliar. Nilai investasi tersebut mengalami pembengkakan biaya sebesar US$1,2 miliar dari target awal biaya proyek sebesar US$6 miliar.

Sebanyak 60% dari pembengkakan biaya atau sekitar US$720 juta akan dibayarkan oleh konsorsium dari Indonesia, sedangkan 40% sisanya atau sekitar US$480 juta ditanggung oleh konsorsium China.

Halaman
  1. 1
Add Bisnis.com as a preferred source on Google

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

    Berita Terbaru

    Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

    Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

    # Hot Topic

    Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

    Rekomendasi Kami

    Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

    Foto

    Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro