Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inflasi Tokyo Mencapai Laju Tercepat Sejak 1982, Ini Penyebabnya

Inflasi Jepang saat ini yang tertinggi sejak April 1982 dan lebih kuat dari perkiraan 3,5 persen oleh para analis.
Asahi Asry Larasati
Asahi Asry Larasati - Bisnis.com 25 November 2022  |  13:39 WIB
Inflasi Tokyo Mencapai Laju Tercepat Sejak 1982, Ini Penyebabnya
Kawasan Harajuku, Tokyo, Jepang
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Inflasi Tokyo, Jepang melampaui perkiraan tercepat sejak 1982, percepatan yang menunjukkan pertumbuhan harga nasional juga akan meningkat pada bulan November setelah berbulan-bulan (month-to-month/mtm) melemahnya yen dan biaya energi yang meningkat.

Dilansir dari Bloomberg pada Jumat (25/11/2022), Kementerian Dalam Negeri Jepang mencatat harga konsumen tidak termasuk makanan segar naik 3,6 persen di ibukota pada bulan November, dengan laju yang lebih cepat didorong oleh kenaikan lebih lanjut dalam harga makanan olahan.

Data dari Kementerian Dalam Negeri tersebut merupakan inflasi yang tertinggi sejak April 1982 dan lebih kuat dari perkiraan 3,5 persen oleh para analis.

Akselerasi lanjutan dalam inflasi inti menantang pandangan Gubernur Bank of Japan (BOJ) Haruhiko Kuroda. Dia menilai inflasi dorongan biaya saat ini hanya bersifat sementara dan stimulus lanjutan diperlukan untuk memastikan pertumbuhan harga menjadi berkelanjutan.

Kenaikan biaya energi kemungkinan akan berkurang karena subsidi pemerintah yang meningkat mulai berlaku dalam beberapa bulan mendatang, bahkan sebagian besar ekonom setuju dengan Kuroda bahwa inflasi Jepang akan meningkat, meskipun pandangan berbeda sejauh.

BOJ kemungkinan akan mempertahankan suku bunga terendah selama sisa masa jabatan Kuroda. Spekulasi pasar sebagian besar terfokus pada apa yang akan terjadi setelah gubernur pergi pada bulan April.

"Mengingat apa yang dikatakan BOJ dan prakiraan inflasi saat ini, saya tidak berpikir kebijakan moneter akan berubah pada tahun fiskal 2022," kata kepala ekonom SMBC Nikko Securities Yoshimasa Maruyama dikutip dari Bloomberg, Jumat (25/11/2022). 

Menurut Yoshimasa, jika gubernur baru ditekan oleh pemerintah atas pelemahan yen, BOJ masih bisa melanjutkan kebijakan pada tahun fiskal 2023.

Angka Tokyo menunjukkan harga makanan olahan naik 6,7 persen pada bulan November, memberikan kontribusi sekitar 1,4 poin persentase terhadap inflasi keseluruhan dan melampaui dampak energi. Tak hanya itu, sebagian besar makanan termasuk bahan mentah diimpor turut dipengaruhi oleh kelemahan yen.

Menurut survei Teikoku Databank, terdapat 833 item makanan termasuk produk susu mengalami kenaikan harga pada bulan November. Berdasarkan Laporan tersebut juga memperkirakan Jepang akan dilanda gelombang kenaikan harga lainnya pada bulan Februari atau Maret tahun depan, dengan biaya 2.000 barang lainnya diperkirakan akan naik.

Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida berupaya untuk meredam pukulan konsumsi dari kenaikan harga, menyusun paket stimulus ekonomi bulan lalu, bahkan sebagian didanai oleh anggaran tambahan senilai 29,1 triliun yen (US$210 miliar).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jepang Inflasi
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bagikan
Konten Premium

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top