Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Top 5 News Bisnisindonesia.id: dari Pendapatan Negara hingga Sumur Migas

Beragam kabar ekonomi dan bisnis yang dikemas secara mendalam dan analitik juga tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id pada Selasa (4/10/2022).
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 04 Oktober 2022  |  08:16 WIB
Top 5 News Bisnisindonesia.id: dari Pendapatan Negara hingga Sumur Migas
Pekerja menimbang buah kelapa sawit di salah satu tempat pengepul kelapa sawit di Jalan Mahir Mahar, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (26/4/2022). Antara - Makna Zaezar
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Pendapatan negara dari ekspor harga komoditas sawit diprediksi berkurang. Hal itu didasarkan pada potensi India mengurangi impor sawitnya dari Indonesia. Meski bukan berita yang terlalu mengejutkan, tak urung hal itu akan berdampak pada jumlah kocek yang masuk ke negara dari sisi ekspor.

Selama ini sumbangan kelapa sawit terhadap penambahan jumlah keuangan negara termasuk yang utama. Sawit merupakan salah satu komoditas ekspor yang cukup penting bagi perekonomian Indonesia.

Berita tentang penghasilan negara berkurang dari ekspor sawit menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Selain berita tersebut, beragam kabar ekonomi dan bisnis yang dikemas secara mendalam dan analitik juga tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id.

Berikut ini highlight Bisnisindonesia.id, Selasa (4/10/2022):

1. Bersiap Penghasilan Negara Berkurang dari Ekspor Sawit ke India

Sebagai penghasil minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi besar untuk memasarkan minyak sawit dan inti sawit di dalam maupun luar negeri. Seperti disebutkan dalam Statisitik Perkebunan Unggulan Nasional 2019-2021, Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian mencatat luas area perkebunan sawit (per 2019) mencapai 14.456.611 hektare. 

Dari lahan seluas itu, terdapat 3,22 persen atau 466.029 hektar tanaman tidak menghasilkan / tanaman rusak. Sebanyak 14,76 persen atau 2.134.168 hektare tanaman belum menghasilkan, dan 80,01 persen atau 11.856.414 hektare tanaman menghasilkan.

Sebagian besar perkebunan kelapa sawit tersebut diusahakan oleh perusahaan besar swasta (PBS) sebesar 54,94 persen atau seluas 7.942.235 hektar, dan perusahaan besar negara (PBN) sebesar 4,27 persen atau 617.501 hektar.

2. Kronologi Nestle Akan Blokir Produk Sawit Astra Agro (AALI)

Nestle SA dikabarkan akan memblokir pasokan sawit PT Astro Agro Lestari Tbk. (AALI). Dalam hal ini, Nestle meminta para vendornya untuk menutup rantai pasok yang melibatkan tiga anak usaha AALI. 

Ancaman itu sebagi dampak dari adanya laporan dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat, terkait dengan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh tiga entitas usaha AALI. Anak usaha AALI yang dituding melakukan pelanggaran hukum dalam hal ini adalah PT Agro Nusa Abadi (PT ANA), PT Lestari Tani Teladan (PT LTT) dan PT Mamuang.

Adapun kronologinya, berdasarkan laporan Bloomberg, dalam surat yang dikirimkan oleh perusahaan asal Swiss tersebut kepada organisasi nirlaba Friends of Earth pada 28 September, Nestle berjanji akan meminta para vendornya memastikan tidak membeli produk dari tiga entitas usaha AALI. Proses penghentian rantai pasok diperkirakan pada akhir tahun ini. 

“Kami menanggapi tuduhan terhadap Astra Agro Lestari ini dengan sangat serius. Kami telah mengikuti situasi dengan cermat dan ketiga anak perusahaan yang bersangkutan telah ada dalam daftar keluhan kami selama beberapa bulan,” menurut surat yang ditandatangai oleh Benjamin Ware, Manager of Responsible Sourcing for Nestle. 

Kerjasama dengan rekan industri, organisasi non-pemerintah, dan pemerintaj sebagai bagian dari strategi yang berfokus dari konservasi, produksi komoditas dan bisnis berkelanjutan juga disiapkan. Nestle juga disebut sedang menciptakan mekanisme pengaduan pihak ketiga yang independen untuk melakukan peninjauan. 

3. Eksodus Modal di Pasar Saham Asia Capai US$111 Miliar

Manajer investasi telah menarik US$111 miliar dari pasar ekuitas regional di Asia, tidak termasuk China, sepanjang 2022. India, Taiwan, dan Asia Tenggara mencatatkan penarikan paling dalam. Dilansir South China Morning Post (SCMP) pada Senin (3/10/2022), analis Goldman Sachs melaporkan bahwa para trader menarik US$1,8 miliar pada pekan lalu.

Penarikan tersebut menambah catatan penjualan bersih atau net selling pada September mencapai US$11 miliar. Pasar India, Taiwan, dan Asean masing-masing mencatat penarikan US$1 miliar.Sementara itu, net buying pada Agustus mencapai US$10 miliar, satu-satunya bulan positif pada 2022. Investor lebih banyak membeli saham China sebelum bursa ditutup saat liburan.  

Dengan demikian, aliran dana yang keluar dari pasar Asia, tidak termasuk China, telah mencapai US$111 miliar sepanjang 10 bulan terakhir.Eksodus portofolio modal di kawasan ini telah melampaui net selling senilai US$93 miliar di pasar tersebut saat terjadinya krisis keuangan pada 2008, seperti dikutip dari laporan Goldman.

4. Penyebab Harga Komoditas Pertambangan Turun pada Oktober

Mayoritas harga komoditas pertambangan mengalami penurunan pada Oktober 2022. Kondisi ini terjadi setelah produk terkena bea keluar tersebut menunjukkan tren kenaikan pada periode sebelumnya. Lalu, apa sebabnya? 

Tren harga pada bulan ini dipengaruhi oleh permintaan di pasar global. Pada akhirnya, situasi tersebut turut memengaruhi penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) produk pertambangan yang dikenakan bea keluar (BK) pada Oktober 2022.

Ketentuan HPE periode Oktober 2022 ditetapkan dalam Keputusan Menteri Perdagangan No 1358/2022 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor Atas Produk Pertambangan Yang Dikenakan Bea Keluar, tanggal 28 September 2022.

Plt. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Veri Anggrijono menerangkan penurunan harga patokan itu dipengaruhi oleh lesunya permintaan atas produk tersebut di pasar dunia.

5. Sumur Migas Mangkrak Milik Pertamina Jadi Incaran Pemda

Banyaknya sumur-sumur minyak dan gas bumi milik PT Pertamina (Persero) yang terbengkalai atau mangkrak karena secara keekonomian kurang layak bagi perseroan itu, menjadi incaran pemerintah daerah.

Setidaknya, menurut catatan Asosiasi Daerah Penghasil Migas dan Energi Terbarukan (ADPMET), terdapat lebih dari 1.000 sumur migas mangkrak milik Pertamina yang masih dapat dikelola oleh daerah dengan formula keekonomian.

Ketua ADPMET Ridwan Kamil mengatakan sumur-sumur migas yang secara keekonomian oleh Pertamina kurang layak, sejatinya masih dapat dikelola oleh daerah penghasil migas secara mandiri tanpa harus mengeluarkan anggaran yang besar.

Dengan demikian, sumur-sumur migas yang terbengkalai tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi bagi daerah penghasil migas, apalagi potensi sumur migas tersebut sangat besar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti
Editor : Yanita Petriella
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top