Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dua Subsektor Transportasi Belum Sepenuhnya Pulih dari Covid-19.

Upaya pemerintah dalam memulihkan seluruh sub sektor transportasi dan pergudangan masih belum selesai
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 01 Oktober 2022  |  23:30 WIB
Dua Subsektor Transportasi Belum Sepenuhnya Pulih dari Covid-19.
Pesawat Batik Air di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Rabu (14/2/2019). Bisnis - Nurul Hidayat
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Samudera Indonesia Research Initiatives (SIRI) menilai bahwa upaya pemerintah dalam memulihkan seluruh sub sektor transportasi dan pergudangan masih belum selesai.

Pasalnya, sub sektor angkutan udara dan angkutan rel masih mengalami kinerja yang tertekan apabila dilihat dari kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih rendah dibandingkan dengan pada level pra pandemi.

Chief Economist SIR Denny Irawan menjelaskan berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), sub sektor angkutan rel mengalami pertumbuhan negatif sebesar 15,57 persen pada Semester I/2022 jika dibandingkan dengan Semester I/2019.

Hal serupa juga terlihat dari sub sektor angkutan udara yang mengalami pertumbuhan negatif sebesar 31,37 persen pada Semester I/2022 jika dibandingkan dengan Semester I/019.

Kedua sub sektor ini memiliki harga konstan produk domestik bruto yang masih lebih rendah dibandingkan kondisi sebelum pandemi Covid-19.

Harga konstan PDB untuk sub sektor angkutan rel pada Semester I/2022 mencapai Rp1,7 triliun dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019 mencapai Rp2.04 triliun. Serupa untuk sub sektor angkutan udara yang memiliki nilai konstan untuk PDB pada Semester I/2022 mencapai Rp22,8 triliun. Jauh berbeda dengan periode yang sama pada 2019 mencapai Rp33,25 triliun.

“Kami menemukan bahwa sub sektor angkutan rel dan angkutan udara masih mengalami tekanan dan belum pulih ke level sebelum pandemi Covid-19. Hanya sub sektor angkutan darat, angkutan laut, angkutan sungai, danau, dan penyeberangan, serta pergudangan dan jasa penunjang angkutan yang telah pulih ke level sebelum pandemi,” ujarnya dalam paparannya dikutip, Sabtu (1/10/2022).

Denny pun memperkirakan sub sektor angkutan sungai, danau, dan penyeberangan (SDP) memiliki kecepatan pemulihan paling tinggi dibandingkan sub sektor lainnya yang terdapat di dalam kelompok sektor transportasi dan pergudangan.

 Sub sektor berikutnya yang memiliki kecepatan pemulihan yang baik adalah sub sektor pergudangan dan jasa penunjang angkutan dengan diikuti oleh sub sektor angkutan darat dan angkutan laut.

Kondisi ini tercermin dari pertumbuhan harga konstan PDB sub sektor SDP yang tumbuh 37,56 persen dari level sebelum pandemi senilai Rp6 triliun menjadi Rp8,29 triliun.

Diikuti sektor pergudangan dan jasa penunjang angkutan yang tumbuh 18,93 persen. Selanjutnya, sub sektor angkutan darat dan angkutan laut yang masing-masing tumbuh sebesar 7,11 persen dan 1,21 persen.

Lebih jauh, dia menilai masing-masing sub sektor tentunya memiliki rantai nilai masing-masing yang terdiri dari input sektoral dan permintaan sektoral. Keterkaitan lintas sektoral ini tentunya akan mempengaruhi kecepatan pemulihan ekonomi di masing-masing sub sektor.

Berdasarkan riset SIRI terhadap sub sektor angkutan rel memiliki kontributor input sektoral terbesar dari sektor administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial dengan nilai kontribusi sebesar 37,10 persen terhadap total input sektoral angkutan rel. Dari kelima sumber input utama untuk angkutan rel, hanya industri batubara dan pengilangan migas yang masih belum pulih ke level pra pandemi.

Hal ini terlihat dari pertumbuhannya pada Semester I/2022 yang bernilai negatif jika dibandingkan dengan Semester I/2019. Di satu sisi, industri batubara dan pengilangan migas juga merupakan kontributor input sektoral terbesar bagi sub sektor angkutan darat, laut, sungai, danau, dan penyeberangan (SDP), serta udara.

Kontribusinya terhadap total input sektoral masing-masing sub sektor tersebut adalah sebesar 25,89 persen, 26,18 persen, 15,83 persen, dan 28,37 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa mayoritas sub sektor transportasi dan pergudangan sangat bergantung terhadap input yang berasal dari industri batubara dan pengilangan migas, yakni bahan bakar.

Dari keenam sub sektor transportasi dan pergudangan, hanya sub sektor pergudangan dan jasa penunjang angkutan yang memiliki input utama (lima terbesar) yang seluruhnya telah pulih ke level sebelum pra pandemi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

transportasi
Editor : Edi Suwiknyo
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top