Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kualitas Udara Jadi Faktor Penting Membeli Rumah Baru

Setiap lokasi hunian memiliki tingkat kualitas udara yang berbeda, berikut cara menentukan hunian yang pas untuk pembeli rumah pertama.
Afiffah Rahmah Nurdifa
Afiffah Rahmah Nurdifa - Bisnis.com 19 September 2022  |  17:46 WIB
Kualitas Udara Jadi Faktor Penting Membeli Rumah Baru
Foto udara pembangunan perumahan bersubsidi di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Jumat (2/9/2022). ANTARA FOTO - Mohamad Hamzah
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Untuk menentukan kualitas kelayakan rumah, ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan mulai dari lokasi, kondisi lingkungan, fasilitas, hingga aksesibilitas.

Namun, mencari lingkungan tempat tinggal yang sehat jadi hal terpenting untuk investasi kesehatan di masa depan. Terlebih, bagi masyarakat yang memilih tinggal di wilayah perkotaan yang setiap harinya terpapar polusi udara tanpa disadari.

Berdasarkan data Air Pollution Index dari WHO, belakangan ini kualitas udara di Jakarta cukup rendah. Polusi PM2.5 di Jakarta bahkan mencapai 39 µg/m³. Angka tersebut terbilang tinggi jika dibandingkan dengan standar WHO tahun 2021 yaitu 5 µg/m³.

Head of Agent Account Management Pinhome Panca Satria menyampaikan urgensi kualitas udara dalam pemelihan hunian yang layak dan sehat. Untuk itu, pihaknya berkolaborasi bersama platform Nafas Indonesia untuk memberikan informasi terkait lokasi hunian yang sehat berdasarkan kualitas udara.

"Hal ini juga dilakukan guna memberikan edukasi mengenai polusi udara, khususnya polusi PM2.5," katanya dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (19/9/2022).

Sebagai informasi, PM2.5 polusi gabungan partikel padat yang ada di udara dengan ukuran 2.5 mikron sehingga menjadi ancaman bagi kesehatan manusia. Polusi tersebut biasanya bersumber dari kendaraan motor, asap pabrik, rokok, dan pembakaran sampah.

Bahkan, polusi PM2.5 memiliki ukuran yang kecil sehingga tubuh manusia sulit untuk memfilter polutan tersebut. Hal ini dapat menyebabkan polutan menyangkut di paru-paru. Adapun dampak ke masalah kesehatan seperti asma, perkembangan paru-paru lambat, batuk, sesak napas, penyakit jantung koroner, kanker paru-paru, dan lainnya.

"Kita dapat mempertimbangkan kualitas udara sebagai faktor penting dalam mencari hunian. Pertama, kita bisa melihat rencana pembangunan. Rata-rata project properti primary adalah project inden yang biasanya (membutuhkan waktu) 12 atau 24 bulan," paparnya.

Panca mengimbau para calon pembeli rumah untuk mempertimbangkan rencana pembangunan yang tengah berjalan di sekitar hunian yang akan dibeli. Pasalnya, pembangunan daerah perkantoran, pabrik, dan kawasan industri dapat menyebabkan kepadatan udara.

Di sisi lain, aksesibilitas dan jarak rumah ke tempak penting juga seringkali jadi pertimbagan pembeli rumah. Namun, Panca menilai bangunan-bangunan, termasuk perumahan itu sendiri bisa mendatangkan kerumunan dan menyebabkan kemacetan sehingga timbul polusi.

"Tapi hal ini (sebenarnya) diperlukan juga, karena di suatu hunian kita tidak mau dong hunian kita ada di kawasan yang sepi? Karena kepadatan penduduk belum tentu menjadi faktor polusi udara yang tidak baik," jelasnya.

Tak hanya itu, sistem pembuangan sampah di sekitar lokasi pencarian hunian juga penting untuk memastikan kualitas udara yang akan kita hirup sehari-hari benar-benar bersih dan sehat.

Tips Meningkatkan Kualitas Udara di Rumah

1. Gunakan Air Purifier untuk menyaring udara kotor
2. Rutin membersihkan peralatan rumah tangga yang mudah menjadi sarang debu seperti karpet, hiasan dinding dari bahan kain, dan lain-lain
3. Pasang exhaust fan di kamar mandi
4. Rutin melakukan cuci AC dan membersihkan kipas angin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rumah polusi udara Jakarta perumahan
Editor : Novita Sari Simamora
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top