Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Kantor pusat PLN. / Istimewa
Lihat Foto
Premium

Mendua Sikap PLN untuk Energi Bersih, Jalan Panjang Menuju Green Energy

Sejumlah inisiatif hijau akan tetap sulit diambil menyusul sikap mendua PT PLN (Persero) terhadap batu bara.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com
02 September 2022 | 15:23 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Lebih dari 3 tahun tanpa kejelasan tarif kontrak jual beli listrik atau power purchase agreement (PPA), perusahaan panas bumi Italia, Enel Green Power dan perusahaan asal Turki, Hitay Energy Holdings memilih angkat kaki dari Indonesia tahun lalu.

Dua perusahaan asing itu disebut enggan berseteru sengit dengan pemerintah perihal kesepakatan tarif jual listrik panas bumi yang belakangan melenceng dari kesepakatan hasil lelang. Uang komitmen kerja yang masing-masing mengendap US$10 juta di bank milik pemerintah ditarik legawa. 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN belakangan menarik kesepakatan ihwal besaran tarif yang menjadi hak dua perusahaan pemenang lelang wilayah kerja panas bumi (WKP) tersebut.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang baru dilantik saat itu Ignasius Jonan berpendapat tarif jual listrik panas bumi hasil lelang terbuka yang dimenangi Enel dan Hitay terlalu tinggi. 

Jonan meminta PLN melakukan negosiasi ulang dengan Enel dan Hitay sebelum surat penugasan PPA dan eksplorasi lanjutan diteken. Jonan, yang baru menjabat berapa bulan saat itu, disebutkan keberatan dengan tarif jual listrik panas bumi yang terlanjur disetujui pendahulunya Sudirman Said. Alasannya, menurut sumber Bisnis yang mengetahui polemik tersebut, pemerintah bersama dengan PLN ingin tarif beli listrik panas bumi tidak lebih dari US$7 sen per kilowatt hour (kWh).

Adapun, Enel Green Power bersama mitra kerjanya di Indonesia PT Optima Nusantara Energi memenangi lelang terbuka WKP Way Ratai, Lampung dengan kapasitas 55 megawatt (MW) pada 2016 lalu. Saat itu, pagu tarif jual listrik dari konsesi seluas 70.710 hektar tersebut dipatok mencapai US$14,6 sen per kWh. Konsorsium Enel-Optima mendapatkan konsesi sebagai pelaksana survei pendahulu dengan menyamakan tarif jual listrik dengan Pertamina di kisaran US$13 sen per kWh.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 5 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Atau Berlangganan Sekarang

Silakan pilih paket berlangganan yang anda inginkan untuk terus menikmati konten premium.

Berlangganan Sekarang
Berbagai metode pembayaran yang dapat Anda pilih:
  • visa
  • mastercard
  • amex
  • JCB
  • QRIS
  • gopay
  • bank transfer
  • ovo
  • dana
back to top To top