Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Top 5 News Bisnisindonesia.id: Pembukaan Ekspor CPO dan Magnet Emiten Logam

Sejumlah isu turut menjadi pilihan Top 5 News Bisnisindonesia.id edisi hari ini. Dimulai dari menguatnya magnet emiten logam, lampu kuning manufaktur asal Jepang, hingga transformasi transaksi pembayaran jalan tol tanpa berhenti
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 23 Mei 2022  |  06:58 WIB
Ilustrasi petani mengangkat buah sawit. - Bisnis
Ilustrasi petani mengangkat buah sawit. - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA — Setelah menghentikan sementara ekspor CPO dan produk turunannya, pemerintah kembali mengizinkan komoditas tersebut diperdagangkan ke pasar global. Mulai Senin (23/5/2022) CPO dari Indonesia akan mengalir ke pasar dunia.

Keputusan membuka kembali keran ekspor CPO dan minyak goreng diambil pemerintah setelah memperhatikan kondisi pasokan dan harga minyak goreng saat ini. Selain itu, kelangsungan hidup 17 juta pekerja termasuk petani di industri sawit turut menjadi pertimbangan.

Pembukaan ekspor CPO dan turunannya ini diumumkan langsung Presiden Joko Widodo. Namun, apakah industri ini akan kembali ‘licin’ setelah dilarang kirim ke luar negeri selama tiga pekan terakhir? 

Telaah pasca kebijakan ini diulas secara komprehensif pada laman Bisnisindonesia.id. Selain itu, sejumlah isu turut menjadi pilihan Top 5 News Bisnisindonesia.id edisi hari ini. Dimulai dari menguatnya magnet emiten logam, lampu kuning manufaktur asal Jepang, hingga transformasi transaksi pembayaran jalan tol tanpa berhenti.

Berikut sejumlah berita pilihan yang disajikan secara komprehensif dan analitik khas Bisnisindonesia.id:

1. Keran Ekpor Dibuka Lagi Senin, CPO Akan Kembali “Licin”?


Setelah menghadapi dilema larangan ekspor CPO dan turunannya, mulai hari ini, Senin (23/5/2022) pemerintah mengizinkan kembali ekspor komoditas tersebut. Kebijakan ini diiringi dengan klaim bahwa harga minyak goreng mulai turun mendekati target pemerintah yakni Rp14.000 per liter.

Situasi ini menjadi angin segar bagi sekitar 17 juta pekerja di industri sawit. Sejak ekspor dilarang, harga tanda buah segar (TBS) kelapa sawit anjlok. Ditambah lagi, tangki penampung CPO di sejumlah pabrik mulai dapat dikosongkan kembali. 

Sebab selama embargo, tangki penyimpanan minyak mentah penuh disebabkan produksi melebihi kebutuhan domestik. Kini sawit dari para petani juga mulai kembali diterima diiringi perbaikan harga penjualan TBS dalam negeri. Namun sejauh mana kebijakan ini membuat industri sawit kembali licin? 

2. ‘Lampu Kuning' Aksi Balik Kampung Manufaktur Jepang


Aksi balik kampung pemain manufaktur Jepang dari sejumlah negara seperti China, Asia Tenggara, dan Rusia turut membayangi kelangsungan investasi Negeri Sakura itu di Indonesia. 

Kebijakan ini diambil seiring dengan sentimen global yang melanda Jepang. Terutama pelemahan yen terhadap dolar Amerika Serikat, gangguan rantai pasok, hingga tekanan geopolitik. 

Beberapa sektor seperti komponen otomotif, elektronik dan kosmetik di luar Jepang berpotensi akan berpindah ke negara asal. Di Indonesia, sejumlah sektor manufaktur yang berpotensi ditinggalkan oleh investor Jepang adalah elektronika dengan investasi yang cenderung stagnan dan tekstil yang mengalami kontraksi.

Di sisi lain, manufaktur otomotif yang menjadi porsi terbesar investasi Jepang di Indonesia diyakini masih cukup menjanjikan meskipun perlu adanya upaya lebih keras untuk mendorong ekspor. Sejauh mana langkah para investor Jepang ini berdampak ke Indonesia? 

3. Magnet Emiten Logam Makin Kuat


Harga logam industri masih mengalami kenaikan di tengah ketegangan geopolitik Rusia dan Ukraina, serta kasus Covid-19 yang masih menghantam China. Hal ini bakal menyumbang keuntungan untuk emiten terkait.

Berdasarkan data Bloomberg, pada Minggu (22/5) harga emas spot masih bertahan di zona hijau, naik 0,25 persen ke US$1.846 per troy ons. Adapun, harga emas Comex naik 0,03 persen ke US$1.848,40 per troy ons.

Selain itu, harga tembaga di pasar LME untuk kontrak 3 bulan naik 0,07 persen ke US$9.422 per ton. Harga aluminium LME juga naik 1,36 persen ke US$2.946 per metrik ton, harga timah LME naik 1,27 persen ke US$34.665 per ton, dan harga nikel naik 6,49 persen ke US$27.900 per ton.

Kondisi ini menunjukkan bahwa industri tambang logam masih mengalami kenaikan permintaan, terutama terhadap nikel. Di sisi lain dari sisi produksi masih cenderung ada penurunan, sehingga ikut mempengaruhi harga.

Peningkatan nilai jual komoditas logam juga ditopang oleh faktor geopolitik Rusia - Ukraina. Rantai pasokan mengalami ketidakpastian sejak perang pecah pada 24 Februari lalu. 

Bagaimana pemerintah menanggapi situasi ini terlebih memiliki cadangan melimpah di dalam negeri? 

4. PR Besar Menghantui Jelang Penerapan Bayar Tol Tanpa Berhenti


Setelah lima tahun menerapkan sistem transaksi pembayaran jalan tol di Indonesia secara non tunai, pemerintah mulai mengatur ancang-ancang menerapkan pembayaran tanpa berhenti. 

Sistem ini merupakan inovasi lanjutan. Sejak 2017, pembayaran telah menggunakan e-toll. Namun, masih saja terdapat pengemudi yang belum mengisi saldo pada kartu tol. Hal ini menyebabkan antrean panjang di gerbang pembayaran. 

Kali ini, pemerintah akan memberlakukan sistem pembayaran tanpa sentuh atau Multi Lane Free Flow (MLFF) untuk penggunaan di jalan tol yang dilakukan secara bertahap. 

Beberapa ruas tol akan mulai diterapkan pada tahun ini. Kemudian secara keseluruhan bakal berlaku di seluruh Indonesia pada 2024.

Rencananya akan ada 40 ruas tol yang akan diterapkan MLFF pada akhir tahun ini. Namun sejumlah pekerjaan rumah masih menghantui penerapan skema pembayaran ini. Apa saja? 

5. Setengah Abad REI, Sepak Terjang Bangun Rumah di Tanah Air

Asosiasi perusahaan Real Estat Indonesia (REI) memperingati ulang tahun emas ke-50 di tahun ini. Usia yang terbilang tak lagi muda untuk perjalanan kiprah REI di Tanah Air.  

Sejak terbentuk REI pada 11 Februari 1972, keberadaan REI memang dimaksudkan untuk menghimpun dan mempersatukan seluruh potensi pengembang properti nasional.

Dalam usia setengah abad ini, REI tak hanya mampu berkontribusi dalam membangun properti di Indonesia, namun juga melahirkan putera-putera terbaik untuk memimpin organisasi bergengsi dunia. 

Salah satu organisasi dimaksud adalah Federasi Realestat Dunia atau Fédération Internationale des Administrateurs de Bien-Conselis Immobiliers (FIABCI) yang berada di bawah naungan UN Habitat. Bagaimana sepak terjang industri properti setelah kemunculan REI? 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jepang manufaktur komoditas properti jalan tol ekspor cpo
Editor : Rayful Mudassir

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top