Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ambisi Indonesia Pacu Ekspor Kopi, Pengusaha: Produksi Stagnan

Ambisi pemerintah untuk menggalakkan ekspor kopi ke mancanegara masih jauh dari kata berhasil.
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 13 Mei 2022  |  05:56 WIB
Ilustrasi biji kopi
Ilustrasi biji kopi

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (Aeki) menilai pemerintah saat ini masih sebatas gembar-gembor terkait menggalakkan ekspor kopi ke mancanegara. Tetapi, proses hulu yakni dukungan pada produktivitas petani masih terbatas.

Ketua Aeki Moelyono Soesilo mengatakan, saat ini produktivitas kopi Indonesia berkisar 10-12 juta karung per tahun atau mencapai 774.600 ton. Menurut dia, dengan produktivitas seperti itu, peluang ekspor Indonesia masih stagnan.

“Pemerintah sendiri ingin menggalakkan ekspor kopi, tapi kita pengusaha nanya kopinya dari mana. Pemerintah gembar-gembor ekspor tapi tidak diurusi petani. Misalnya pupuk tidak disediakan, karena pupuk hanya untuk pertanian pangan. Ini jadi kendala. Kita disuruh gemuk, tapi gak dikasih makan,” ujar Moelyono kepada Bisnis, Kamis (12/5/2022).

Menurutnya, pada tahun ini memang ekspor kopi meningkat secara data. Tetapi, sebetulnya ekspornya relatif sama. “Kalau meningkat sih engga tapi ekspor tertunda saja. Kontrak-kontrak yang karena barangnya pada 2021 udah terlanjur di kontainer dan kapal, baru dikirim sekarang [2022],” ungkapnya tanpa merinci lebih lanjut.

Namun, menilik data Badan Pusat Statistik, ekspor kopi, teh, dan rempah-rempah dalam kode HS 09 pada periode Januari-Desember 2021 menurun 7,09 persen dari segi volume menjadi 570.540 ton dari tahun sebelumnya 614.140 ton.

Meski masyarakat tengah gandrung kopi, Moelyono mengatakan, hal itu kadang berbeda dengan realitas perdagangan global. Menurut dia, harga kopi saat ini US$2.020-US$20.80 per ton atau tidak banyak kenaikan.

“Ini juga membuat petani kopi kurang termotivasi menjaga kebunnya. Sekarang juga kita jadi turun peringkat jadi nomor tiga kan,” ucapnya.

Diketahui, saat ini Indonesia terancam kehilangan devisa negara dari komoditas sawit lantaran larangan ekspor CPO oleh pemerintah sejak 28 April. Padahal ekspor komoditas ini berkontribusi sebesar Rp112,82 triliun bagi perekonomian Indonesia sepanjang kuartal I/2022.

Sayangnya, belum ada komoditas komoditas perkebunan lain yang berpeluang dapat menggantikan sawit sebagai komoditas ekspor utama Indonesia.

Direktur Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Muhammad Faisal mengatakan sejatinya Indonesia mempunyai komoditi perkebunan lain selain sawit. Sebut saja karet, kopi, kakau dan kopra. Tetapi, kata dia, saat ini produktivitasnya amat rendah.

“Alokasi pendanaan, terutama APBN sehingga perhatian pada komoditas pada selain sawit itu rendah. Jadi itu membuat, dari sisi produktivitas di luar sawit jadi rendah,” kepada Bisnis, Kamis (12/5/2022).

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor kopi ekspor cpo larangan ekspor sawit
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top