Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Akibatnya Bagi Industri Kalau Harga Energi Naik

Kenaikan harga energi bakal menyebabkan inflasi lebih tinggi dari tahun lalu, pada kisaran 4 persen hingga 5 persen tergantung seberapa besar kenaikan harga yang dipatok oleh pemerintah.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 10 Januari 2022  |  14:27 WIB
Pekerja menyelesaikan pembuatan perangkat alat elektronik rumah tangga di PT Selaras Citra Nusantara Perkasa (SCNP), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (19/8/2020). Bisnis - Abdullah Azzam
Pekerja menyelesaikan pembuatan perangkat alat elektronik rumah tangga di PT Selaras Citra Nusantara Perkasa (SCNP), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (19/8/2020). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan pemerintah perlu berhati-hati memutuskan kebijakan kenaikan harga energi pada tahun ini, khususnya di tengah industri manufaktur yang masih dalam masa pemulihan.

Wakil Ketua Umum Kadin Shinta W Kamdani mengatakan kenaikan harga energi akan mengerek biaya produksi pada semua produk yang dikonsumsi masyarakat. Jika itu terjadi, dia memperkirakan inflasi akan lebih tinggi dari tahun lalu, pada kisaran 4 persen hingga 5 persen tergantung seberapa besar kenaikan harga yang dipatok oleh pemerintah.

"Kami harap pemerintah prudent memutuskan kenaikan harga energi di tahun ini. Pelaku usaha melihat saat ini sama sekali bukan momen yang tepat untuk menaikkan harga energi," kata Shinta saat dihubungi, Senin (10/1/2022).

Menurut Shinta, jika hal ini terjadi, konsumsi masyarakat akan melambat drastis dalam jangka pendek sampai menengah, bahkan sampai dua hingga tiga tahun setelahnya.

Dalam kondisi pandemi yang belum sepenuhnya reda, akan butuh waktu yang cukup lama untuk memulihkan laju permintaan pasar. Sebab, selama masih ada pandemi, produktivitas masih akan terus tertahan, sehingga penciptaan lapangan kerja juga tidak bisa digenjot maksimal untuk segera meningkatkan daya beli yang bisa mengimbangi dampak kenaikan biaya produksi.

Sebaliknya, menurut Shinta pemerintah perlu fokus pada pemberian dukungan melalui perbaikan efisiensi biaya usaha pokok di industri manufaktur. Tanpa dukungan di sisi efisiensi, industri nasional tidak bisa meningkatkan kinerja dengan maksimal karena beban operasional yang lebih tinggi atau karena penurunan permintaan pasar akibat inflasi.

Dorongan untuk pemberian dukungan itu sejalan dengan langkah pemerintah menaikkan target pertumbuhan pada tahun ini menjadi 4,5 persen hingga 5 persen, dari proyeksi tahun lalu 4 persen hingga 4,5 persen.

"Kami harap hal ini bisa dilakukan dengan reformasi-reformasi struktural terhadap iklim usaha agar biaya usaha lain bisa lebih efisien daripada saat ini untuk membantu mendongkrak kinerja perusahaan," ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

energi manufaktur kadin
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top