Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Fintech di Inggris Rentan Kejahatan Digital

London sebagai hub industri fintech di Inggirs rentan kejahatan digital. Apa pemicunya?
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 05 Januari 2022  |  19:02 WIB
Lalu lintas pejalan kaki di Inggris - Bloomberg
Lalu lintas pejalan kaki di Inggris - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - London sebagai hub industri fintech kini dikhawatirkan berbalik menjadi pintu masuk transaksi haram melalui pembayaran digital. Pertumbuhan industri yang pesat tidak diiringi dengan peraturan yang ketat.

Ratusan pengajuan peraturan, hukum, dan perusahaan lembaga keuangan elektronik (EMI) yang ditinjau oleh Bloomberg menunjukkan gambaran yang meresahkan dari sudut baru Kota ini. Hal ini juga dipicu oleh lemahnya pengawasan Otoritas Keuangan Inggris (FCA).

Salah satu preseden buruk yang terjadi adalah ketika salah satu fintech yang menyediakan layanan bank digital, Moorwand Ltd., tersandung masalah ketika lender-nya di Denmark memiliki ratusan transaksi mencurigakan yang melibatkan perusahaan pembayaran.

Pada 2018, pihak berwenang Denmark menyita bank Kobenhavns Andelskasse, dengan alasan pelanggaran undang-undang pencucian uang dan menyerahkan masalah tersebut ke kepolisian.

Moorwand merupakan perusahaan milik pengusaha asal Moldova, Wael Sulaiman Almaree, belum diputuskan bersalah dan masih menjalankan kegiatan pemindahan dana klien. Hingga kini kedua pihak masih bungkam.

Adapun, kasus lainnya yang ditemukan oleh FCA di antaranya adalah eksekutif perusahaan atau pemegang saham yang terkait dengan skandal pencucian uang negara Baltik, seperti dugaan penyalahgunaan keuangan di Rusia dan Kirgistan, penipuan dana kesehatan di AS dan dugaan penyalahgunaan keuangan di Luksemburg dan Australia.

Perusahaan-perusahaan ini berada di bawah yurisdiksi di luar Inggris, termasuk Kepulauan Virgin, Siprus, Ukraina, dan Uni Emirat Arab.

Perlu diketahui, transaksi pembayaran digital yang terjadi di Inggris diperkirakan mencapai 1,4 miliar pound sterling (US$1,9 miliar) dalam setiap harinya.

Meskipun transaksi haram yang terjadi hanya sebagian kecil dari aliran keuangan Inggris, tetapi kasus-kasus tersebut telah menyita perhatian para pemerhati keuangan.

"Ini [kawasan tanpa hukum] yang mudah dimasuki oleh mereka berniat kriminal dengan sengaja. APa yang Anda lihat adalah [kondisi tak beraturan] dan regulator sedang mati-matian mengejarnya,” kata Graham Barrow, analis kejahatan keuangan untuk HSBC Holdings Plc, Nordea Bank Abp dan Societe Generale SA seperti dikutip Bloomberg pada Selasa (4/1/2022).

FCA telah menolak 50 dari 89 aplikasi perizinan EMI baru pada tahun lalu dan delapan tinjauan formal EMI. Sebelumnya, regulator telah mencabut izin operasi pada empat perusahaan.

"Kami telah melakukan banyak pekerjaan untuk meningkatkan standar keuangan anti kejahatan di perusahaan pembayaran dan uang elektronik. Kami akan terus mengambil tindakan tegas di mana perusahaan tidak memenuhi standar yang kami harapkan," kata juru bicara FCA dalam email.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

inggris kejahatan siber fintech
Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top