Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Kinerja Industri Farmasi Terjepit, Ini Sebabnya

Di tengah melandainya Covid-19 di Indonesia, kondistri industri farmasi malah diproyeksi melambat.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 16 Desember 2021  |  14:44 WIB
Kinerja Industri Farmasi Terjepit, Ini Sebabnya
Petugas menyiapkan obat Covid-19 di gudang instalasi farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (15/7/2021). Mulai hari ini, Pemerintah Pusat resmi membagikan sebanyak 300.000 paket obat gratis berupa multivitamin, Azithtromycin, dan Oseltamivir bagi pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri di Pulau Jawa dan Bali. ANTARA FOTO - Raisan Al Farisi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia (GPFI) memprediksi pertumbuhan industri akan melambat di kuartal terakhir tahun ini karena kontribusi yang menurun dari obat-obatan terkait Covid-19.

Direktur Eksekutif GP Farmasi Elfiano Rizaldi menyatakan pertumbuhan 9,71 persen di industri kimia, farmasi, dan obat tradisional pada kuartal III/2021 banyak ditunjang oleh permintaan obat terkait Covid-19 saat terjadi lonjakan kasus di Indonesia. Tidak hanya obat terkait Covid, tetapi juga multivitamin dan penunjang kesehatan lainnya.

"Di kuartal empat, permintaan obat Covid sudah labih kecil bahkan minim sekali, tapi untuk pasien non-Covid belum kembali normal," kata Elfiano saat dihubungi Bisnis, Kamis (16/12/2021).

Dia mensinyalir masyarakat masih ada kekhawatiran dari masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan secara langsung di rumah sakit.

Sementara itu, Elfiano menaksir pertumbuhan industri untuk sepanjang tahun ini akan berkisar 9 persen hingga 9,5 persen.

Sebelumnya, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh ekspansif selama tiga kuartal berturut-turut pada tahun ini, yakni 11,46 persen, 9,15 persen, dan 9,71 persen. Disebutkan bahwa pertumbuhan terutama didukung oleh peningkatan produksi obat-obatan untuk memenuhi permintaan domestik dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Adapun, dengan asumsi optimistis tidak akan gelombang Covid-19 berikutnya pada tahun depan, pertumbuhan industri akan melambat 3 persen hingga 4 persen pada 2022.

"Kemungkinan pasien non-Covid masih belum kembali normal pada tahun depan," ujarnya.

Dia juga mengatakan menurunnya kasus Covid-19 di Tanah Air dalam beberapa bulan terakhir menyebabkan industri mengalami kelebihan stok obat terkait pandemi. Karenanya, jika terjadi gelombang ketiga pandemi karena masuknya varian Omicron ke Indonesia, Elfiano mengatakan industri farmasi sudah siap dengan stok obat yang memadai.

"Kalau terjadi gelombang ketiga, dengan guidance dari WHO yang masih tetap menggunakan obat Covid varian Delta, kami sangat siap menyediakan obat-obatan terkait Covid," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur obat farmasi Covid-19
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top