Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Top 5 News Bisnisindonesia.id: Berkah Lockdown di Negara Kompetitor bagi Produsen Garmen Lokal hingga Nasib Investor Pemegang Saham Emiten yang Akan Delisting

Sejumlah topik di Bisnisindonesia.id mulai dari berkah penguncian wilayah atau lockdown di negara kompetitor bagi produsen garmen lokal hingga cerita nasib investor pemegang saham emiten yang akan delisting menjadi dua dari lima pilihan yang patut Anda baca lebih lengkap.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 29 September 2021  |  14:05 WIB
Pekerja perempuan memproduksi alat pelindung diri sebuah perusahaan garmen saat kunjungan Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah di Jakarta, Rabu (1/7/2020). Kunjungan Menaker tersebut guna memastikan pekerja perempuan pada sektor industri tidak mendapatkan perlakuan diskriminatif serta untuk mengecek fasilitas laktasi dan perlindungan kesehatan bagi pekerja terutama saat pandemi Covid-19. ANTARA FOTO - M Risyal Hidayat
Pekerja perempuan memproduksi alat pelindung diri sebuah perusahaan garmen saat kunjungan Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah di Jakarta, Rabu (1/7/2020). Kunjungan Menaker tersebut guna memastikan pekerja perempuan pada sektor industri tidak mendapatkan perlakuan diskriminatif serta untuk mengecek fasilitas laktasi dan perlindungan kesehatan bagi pekerja terutama saat pandemi Covid-19. ANTARA FOTO - M Risyal Hidayat

Bisnis, JAKARTA— Langkah penguncian wilayah atau lockdown di negara kompetitor ternyata mendatangkan berkah bagi produsen garmen di Tanah Air. Artikel tersebut merupakan satu dari lima artikel pilihan editor di Bisnisindonesia.id. Simak seluruh pilihan lengkapnya.

1. Lockdown di Negara Kompetitor Pacu Ekspor Produsen Garmen Indon

Beberapa produsen garmen di Tanah Air seperti PT Globalindo Intimates di Kabupaten Klaten dan PT Selalu Cinta Indonesia di Salatiga menuai berkah dari pembatasan mobilitas di sejumlah negara kompetitor dan Vietnam. Ternyata, langkah membatasi mobilitas membuat kedua perusahaan itu mendapat limpahan pemesanan yang tak bisa dipenuhi negara kompetitor. Sebagai imbasnya, ekspor pengusaha garmen dan alas kaki terkerek naik akibat kebijakan di negara tersebut.

Adapun, langkah penguncian wilayah ditempuh untuk menangani pandemi Covid-19 gelombang kedua. Alhasil, GI dan SCI bisa memacu produksi dan menyentuh kapasitas penuh hingga 2023. Selain mendapat limpahan permintaan, kedua perusahaan memacu produksi untuk memenuhi permintaan pasar Eropa dan Amerika Serikat.

Peningkatan produktivitas bisa dilakukan melalui kebijakan operasional 100 persen pada masa pandemic bagi industri esensial seperti yang diatur dalam Surat Edaran Menteri Perindustrian No.3/2021 juncto No.5/2021 tentang Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI).

2. Faktor di Balik Pelemahan Harga Saham BABP Sejak Rights Issue

Kinerja saham PT Bank MNC Internasional Tbk. selama masa rights issue terus memerah, berbanding terbalik dengan kinerjanya sejak akhir Mei hingga awal Agustus 2021 yang melesat.  

Emiten berkode saham BABP ini telah memulai periode pelaksanaan rights issue pada 14 September 2021 hingga 27 September 2021, yang menawarkan hingga 14,23 miliar saham seri B dengan harga pelaksanaan Rp318 setiap saham.

Adapun, harga saham MNC Bank pada penutupan perdagangan Senin (13/9/2021) atau sebelum periode rights issue berada di level Rp352 per saham. Namun, mulai periode perdagangan rights issue, harga saham BABP terus merosot hingga ke level Rp262 per saham pada perdagangan terakhir, Selasa (28/9/2021).

Dengan demikian, selama 10 hari periode perdagangan rights issue, saham MNC Bank telah terkoreksi sebesar 20,45 persen. Secara fundamental, prospek layanan digital dengan Motionbanking seharusnya BABP menarik dalam pertumbuhan kinerja.

Apakah penurunan harga yang terjadi itu wajar? Simak ulasan lengkapnya di Bisnisindonesia.id.

3. Krisis Listrik di China, Peluang Manis bagi Indonesia

Krisis energi di China menjadi peluang Indonesia untuk mengapalkan tambahan batu bara ke negeri Panda. Seperti diketahui, krisis listrik melanda Negeri Tirai Bambu kala industri menggenjot kinerja sehingga meningkatkan kebutuhan enegri.

Pemulihan ini terjadi di tengah upaya China berebut batu bara untuk terus menghidupkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Di sisi lain, Presiden Xi Jinping tengah berambisi menekan emisi dengan pembangkit berbasis energi bersih untuk persiapan Olimpiade 2022.

Sejumlah industri yang terdampak langsung di antaranya smelter aluminium hingga produsen tekstil dan pabrik pengolahan kedelai. Pemerintah China mencatat hampir setengah wilayah di negara itu melewatkan target konsumsi listrik nasional.  

Ternyata hal itu memberikan peluang manis bagi Indonesia, salah satu pengekspor batu bara terbesar dunia.

4. Harga Emas Melemah Seiring Rencana Kenaikan Suku Bunga AS 

Kebijakan Federal Reserve, atau the Fed, menaikkan suku bunga lebih cepat telah berdampak pada tergelincirnya harga emas. Harga logam mulia itu bahkan tergelincir ke level terendah dalam tujuh hari terakhir pada perdagangan Selasa (28/9/2021).

Dot plot yang ditetapkan oleh anggota FOMC (Komite Pasar Terbuka Federal) menandakan kenaikan suku bunga Fed yang lebih awal dari perkiraan.Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan peluang kerugian memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang jadi acuan naik kembali di atas 1,5 persen, level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan, dengan pasar mulai memperhitungkan inflasi masa depan yang lebih tinggi. Lalu, sentimen apa lagi yang menghalangi penguatan harga emas?

5. Banyak Emiten Terancam Delisting, Investor Publik Bakal Rugi

Terdapat sejumlah emiten yang antre keluar dari pasar modal atau delisting. Selain PT Bentoel International Investama Tbk. (RMBA), otoritas pasar modal mencatat ada beberapa emiten yang juga terancam delisting paksa atau forced delisting.

BEI bahkan mencatat ada delapan emiten yang berpotensi terdepak dari Bursa secara paksa. Kedelapan emiten tersebut adalah PT Natura City Developments Tbk. (CITY), PT Sinergi Megah Internusa Tbk. (NUSA), PT Plaza Indonesia Realty Tbk. (PLIN), PT Rimo International Lestari Tbk. (RIMO), PT Hanson Internasional Tbk. (MYRX), PT Hotel Mandarine Regency Tbk. (HOME), PT Cowell Development Tbk. (COWL), dan PT Modernland Realty Tbk. (MDLN).

BEI berpendapat kedelapan emiten itu berpotensi untuk terdepak dari lantai bursa sebab telah mengalami suspensi selama lebih dari enam bulan. Adapun alasan penghentian perdagangan saham disebabkan beragam sebab.

Misalnya PLIN, emiten yang mengelola Plaza Indonesia itu disuspensi akibat tidak memenuhi aturan free float. Akibatnya kepemilikan publik kurang dari tujuh persen atau hanya sekitar 2,99 persen. Adapun saham mayoritas dikoleksi oleh PT Plaza Indonesia Investama sebanyak 96,61 persen.

Simak penjelasan detailnya di Bisnisindonesia.id.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham Harga Emas Hari Ini china batu bara babp garmen Covid-19
Editor : Duwi Setiya Ariyanti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top