Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kemenperin: Serapan Pasar Panel Surya Masih Rendah

Menurut kajian yang dilakukan oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, permasalahan terkait investasi teknologi ramah lingkungan saat ini adalah biaya yang masih sangat mahal dan membutuhkan waktu pengembangan yang lama, yaitu dua hingga tiga tahun.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 14 September 2021  |  13:10 WIB
Kemenperin: Serapan Pasar Panel Surya Masih Rendah
Petugas sedang melakukan pengecekan di sebuah pembangkit listrik tenaga surya. - PLN
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perindustrian menyoroti masih rendahnya serapan pasar industri panel surya nasional.

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin, Doddy Rahadi mengatakan energi surya di Indonesia saat ini memiliki potensi sebesar 532,6 GWp per tahun. Namun hingga saat ini kapasitas produksi nasional yang terpasang sebesar 515 MWp dan total kapasitas PLTS di Indonesia sebesar 25 MWp.

"Hal ini menunjukkan serapan pasar masih sangat kecil dari kapasitas produksi nasional, diharapkan serapan tersebut dapat terus meningkat guna mendukung bauran EBT nasional,” ujarnya, dalam keterangan tertulis, Selasa (14/9/2021).

Menurut Doddy, pembandingan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) menurut International Renewable Energy Agency pada 2019, Indonesia berada di posisi ke tiga di antara negara-negara Asia Tenggara dengan total Kapasitas EBT terpasang sebesar 9.861 MW.

“Dari data tersebut menunjukkan bahwa kapasitas terpasang dan investasi pada pembangkit tenaga listrik EBT masih rendah, namun melalui berbagai kebijakan dan upaya yang telah dilakukan tantangan tersebut dapat teratasi,” ungkapnya.

Doddy menyebut, menurut kajian yang dilakukan oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, permasalahan terkait investasi teknologi ramah lingkungan saat ini adalah biaya yang masih sangat mahal dan membutuhkan waktu pengembangan yang lama, yaitu dua hingga tiga tahun.

Adapun berdasarkan data dari Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI), saat ini terdapat 10 industri panel surya di Indonesia dengan total 515 MWp. Salah satu industri panel surya dengan kapasitas produksi tertinggi adalah yakni PT Len Industri dengan kapasitas 71 MWp.

"Diharapkan, penggunaan panel surya baik di rumah tangga dan sektor industri tentunya dapat terus meningkat ke depannya, dan PT Len Industri tentunya harus terus berinovasi agar tingkat penggunaan panel surya dapat terus bertambah," sebutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur energi terbarukan plts
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top