Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Korporasi Jadi Motor Penggerak Percepatan Pemanfaatan EBT

Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) menegaskan bahwa korporasi akan menjadi motor penggerak percepatan pemanfaatan energi baru terbarukan atau EBT di Indonesia.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 13 September 2021  |  15:54 WIB
Korporasi Jadi Motor Penggerak Percepatan Pemanfaatan EBT
Nissan Motor Parts Center (NMPC) di Amsterdam beratap 9.000 panel surya. - NISSAN
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) menegaskan bahwa korporasi akan menjadi motor penggerak percepatan pemanfaatan energi baru terbarukan atau EBT di Indonesia.

Ketua Umum AESI Fabby Tumiwa mengatakan bahwa pembelian energi terbarukan oleh korporasi di Asia Pasifik terus mengalami peningkatan beberapa waktu terakhir.

“Satu studi yang menyebutkan bahwa potensi EBT di Asia Pasifik dengan skema direct PPA [power purchase agreement], dibeli langsung oleh perusahaan itu sudah mencapai 10,9 gigawatt,” katanya saat webinar refleksi empat tahun gerakan nasional sejuta surya atap (GNSSA), Senin (13/9/2021).

Riset Institute for Essential Service Reform juga mencatat bahwa kapasitas kumulatif EBT di Asia Pasifik mencapai 10,9 Gw pada semester I/2021. Angka itu bertambah signifikan pada 2020, yakni sebesar 3,8 GW.

Dari catatan itu disebutkan bahwa pembeli dari kalangan korporasi menjadi penggerak utama. Hal tersebut menjadi acuan optimisme AESI bahwa target 23 persen pemanfaatan EBT akan tercapai pada 2024.

“Ini yang saya bilang bahwa kami optimistis 23 persen [EBT di bauran energi] bisa tercapai dari PLTS, walaupun tidak semua pabrik cukup atapnya untuk memenuhi kebutuhan energinya,” ujarnya.

Menurutnya, target itu akan tercapai dengan adanya target nasional dalam penurunan emisi dan dekarbonisasi dari perusahaan. Selain itu, harga fotovoltaik untuk PLTS juga bakal lebih kompetitif dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG).

Fabby menuturkan, sejumlah perusahaan secara perlahan mulai mengganti penggunaan energi agar lebih bersih. Langkah itu dilakukan agar mereka dapat menjangkau pasar global yang lebih luas.

“Sumber energi terbarukan gampang banget untuk [membuat] mereka bisa mengakses pasar internasional. Kalau perusahaan-perusahaan Indonesia tidak mengarah ke sana, artinya produk kita tidak akan bersaing,” terangnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

plts plts fotovoltaik
Editor : Lili Sunardi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top