Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Efek Instrumen Trade Remedies kepada Industri

Kendati demikian, instrumen trade remedies dinilai belum dimanfaatkan RI dengan maksimal. Hal ini utamanya pada barang-barang konsumsi impor dengan harga yang jauh lebih murah.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 05 September 2021  |  18:50 WIB
Aktivitas bongkar muat peti kemas di terminal peti kemas Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (11/2/2020).  - Bisnis/Paulus Tandi Bone
Aktivitas bongkar muat peti kemas di terminal peti kemas Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (11/2/2020). - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku industri di dalam negeri menilai penerapan trade remedies atas lonjakan impor dan impor produk yang bermuatan dumping atau subsidi efektif dalam mendorong pemulihan.

Efektivitas ini dirasakan salah satunya oleh produsen serat dan benang di Tanah Air. Beberapa produk serat dan benang yang dikenai bea masuk antidumping di antaranya adalah Polyester Staple Fiber (PSF) asal China, India, dan Taiwan serta Spin Drawn Yarn (SDY) yang dipasok China.

“Untuk PSF kami rasa efeknya cukup baik bagi industri. Saat ini sedang dalam proses perpanjangan ketiga kali karena sebagian perusahaan masih merasakan injury dan ancaman dumping masih ada,” kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wiraswasta, Minggu (5/9/2021).

Redma menjelaskan ancaman dumping masih dirasakan lantaran para eksportir memiliki pasokan yang surplus untuk produk tersebut. Dia menyebutkan pula bahwa China menerapkan export rebate untuk produk-produk tersebut.

“Produksi PSF mereka sampai 25 juta ton, sementara kebutuhan domestik mungki 10 juta ton. Otomatis mereka akan mendorong ekspor murah sehingga kami masih merasakan ancaman,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (Indonesian Iron and Steel Industry Association/IISIA) Silmy Karim mengatakan pemberlakuan trade remedies berupa bea masuk antidumping (BMAD) pada sejumlah produk besi dan baja telah memicu perbaikan produktivitas industri di dalam negeri. Indonesia tercatat menerapkan BMAD atas produk hot rolled plate (HRP), besi dan baja I dan H section, dan hot rolled coil (HRC).

“Kehadiran trade remedies sangat efektif dan membuat industri baja menjadi lebih sehat karena produsen asing tidak bisa lagi curang,” katanya.

Namun, dia memberi catatan bahwa pengenaan BMAD membutuhkan proses yang panjang dan melibatkan berbagai pihak, termasuk institusi independen dalam membuktikan adanya praktik dumping.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira berpendapat instrumen trade remedies belum dimanfaatkan RI dengan maksimal. Hal ini utamanya pada barang-barang konsumsi impor dengan harga yang jauh lebih murah.

“Terlebih di tengah bergesernya perdagangan dari tradisional ke nontradisional lewat platform e-commerce. Respons pemerintah dalam hal ini masih minim. Penyesuaian kebijakan untuk menekan injury pada industri terkait belum optimal,” kata Bhima.

Oleh karena itu, Bhima mengatakan penyelidikan untuk membuktikan terjadinya praktik curang perlu diperkuat, sejalan dengan langkah perbaikan industri di dalam negeri sehingga daya saing membaik.

“Saat daya saing membaik belum tentu produktivitas naik signifikan jika tidak ada upaya perlindungan seperti safeguard dan anti dumping dari praktik dagang yang tidak fair,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor industri dumping
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top