Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Segini Perkiraan Modal Awal Pembentukan Indonesia Battery Holding

Pembangunan ekosistem industri baterai kendaraan listrik dari hulu ke hilir diperkirakan membutuhkan investasi US$13,4 miliar—US$17,4 miliar.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 01 Februari 2021  |  18:19 WIB
Kegiatan operasional pertambangan anggota MIND ID. - mind.id
Kegiatan operasional pertambangan anggota MIND ID. - mind.id

Bisnis.com, JAKARTA — Group CEO Mining and Industry Indonesia (MIND ID) Orias Petrus Moedak memperkirakan modal awal untuk pembentukan Indonesia Battery Holding diperkirakan mencapai US$50 juta.

"Rencana awal untuk IBH berdiri, modalnya kurang lebih US$50 juta dan hanya awal. Setelah itu, kami akan lihat potensi kerja sama dengan mitra dan bagaimana pendanaan selanjutnya," ujar Orias dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, Senin (1/2/2021).

Indonesia Battery Holding (IBH) merupakan konsorsium BUMN yang akan dibentuk untuk mengembangkan ekosistem industri baterai kendaraan listrik secara terintegrasi dari hulu ke hilir.

Holding tersebut akan terdiri atas Mining and Industry Indonesia (MIND ID), PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), dan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk., dengan masing-masing kepemilikan saham 25 persen. Setiap BUMN memiliki keleluasaan untuk dapat berpartisipasi langsung dalam usaha patungan yang dibentuk bersama calon mitra.

Secara keseluruhan, pembangunan ekosistem industri baterai kendaraan listrik dari hulu ke hilir diperkirakan membutuhkan investasi US$13,4 miliar—US$17,4 miliar. Namun, pada tahap awal kebutuhan investasi diperkirakan hanya mencapai US$5—US$10 miliar.

"Itu pun masih bertahap karena di hulu ada investasi besar, bukan ditambangnya, tapi sudah masuk ke smelternya. Kami pakai HPAL atau RKAF itu yang membutuhkan pendanaan lebih besar. Kemudian akan masuk ke di level prekursor sampai ke baterai di mana PLN dan Pertamina akan ikut," kata Orias.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa kebutuhan pendanaan proyek baterai tersebut akan dipenuhi dari 30 persen ekuitas dan 70 persen dari pinjaman.

"Dari 30 persen equity di masing-masing proses, misal, di hulu sampai smelter kami bisa mayoritas. Kemudian di bawah porsi 30 persen itu kami dengan mitra, tergantung negosiasi dan offtaker nanti seperti apa. Itu masih proses," katanya.

Sementara itu, negosiasi dengan calon mitra global untuk pengembangan baterai EV, yakni Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dari China dan investor asal Korea Selatan, LG Chem Ltd., masih berjalan.

Dalam bahan paparan Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik, Indonesia Battery Holding akan segera dibentuk setelah negosiasi dengan calon mitra difinalisasi.

Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik Agus Tjahajana mengatakan bahwa tim tengah menyelesaikan negosiasi pembentukan joint venture dengan mitra global.

"Sekarang proses belum selesai. Diharapkan tahun ini kami bisa selesaikan joint venture agreement sampai keputusan investasi," kata Agus.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Baterai Mobil Listrik MIND ID
Editor : Zufrizal

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top