Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ikan Beku Menumpuk di Pelabuhan China, Rantai Pasok Terancam

Insiden itu berisiko memengaruhi pengiriman makanan beku ke seluruh negeri dan sekitarnya, serta menyebabkan lonjakan permintaan listrik untuk menjaga wadah berpendingin tetap beroperasi.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 27 Januari 2021  |  14:23 WIB
Pelabuhan Qingdao di Shandong, China. - Reuters
Pelabuhan Qingdao di Shandong, China. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Ratusan kontainer tertahan di Dalian, pelabuhan utama untuk impor makanan laut di China. Tumpukan besar kargo disebabkan otoritas lokal yang menguji ikan untuk virus Corona sebelum mengizinkan mereka melewati bea cukai.

Insiden itu berisiko memengaruhi pengiriman makanan beku ke seluruh negeri dan sekitarnya, serta menyebabkan lonjakan permintaan listrik untuk menjaga wadah berpendingin tetap beroperasi.

Kekurangan outlet listrik dan ruang yang menyusut di pelabuhan telah mendorong perusahaan pengiriman untuk membatalkan pemesanan truk berpendingin.

Kemacetan barang kini merambat ke barang-barang lain yang juga membutuhkan pendingin seperti buah dan pangsit. Ini juga berarti kontainer beku dialihkan ke pelabuhan lain di China, yang menyebabkan kemacetan di Shanghai dan Qingdao juga.

"Sebagian besar perhatian baru-baru ini untuk kargo telah difokuskan pada kontainer berpendingin," kata Josh Brazil, Kepala Operasi Penyedia Data Kargo Ocean Insights, dilansir Bloomberg, Rabu (27/1/2021).

Jika tidak ada sumber listrik baru di pelabuhan, kargo makanan yang mudah rusak tidak akan bisa diselamatkan, kecuali dipindahkan ke pelabuhan lain.

Kejadian ini juga menyoroti dampak pengujian kontroversial China terhadap makanan asing untuk virus terhadap rantai pasokan. Negara itu telah menguji daging dan makanan laut impor untuk mencari jejak virus karena kekhawatiran Covid-19 dapat menyebar ke manusia, meskipun Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan tidak ada bukti orang tertular virus dari makanan dan kemasan makanan.

"China mungkin satu-satunya negara di dunia yang mengklaim bahwa virus corona dapat menyebar melalui makanan beku," kata Ralph Leszczynski, kepala penelitian di pialang kapal Banchero Costa & Co.

Menurut data Bloomberg, setidaknya empat kapal penyimpanan dingin telah menunggu di dekat pelabuhan Dalian selama dua bulan, sembilan kapal kontainer berlabuh di pelabuhan, dan setidaknya enam lagi menunggu di Laut Kuning untuk dibongkar.

Kontainer berpendingin biasanya diangkut bersama dengan ribuan kontainer biasa di kapal, selama mereka memiliki sumber listrik untuk menjaga kargo tetap dingin.

Liaoning Port Group, yang menjalankan port Dalian, tidak menanggapi permintaan komentar, demikian pula dengan Bea Cukai China.

Asosiasi Pemilik Kapal China mengatakan pejabat pelabuhan China telah meningkatkan tes virus Corona, menyebabkan pengiriman berpendingin harus menunggu 20 hari untuk melewati bea cukai di sebagian besar pelabuhan di seluruh negeri. Asosiasi menambahkan bahwa importir harus menanggung tagihan listrik dan biaya demurrage.

AP Moller-Maersk A/S, perusahaan pengiriman peti kemas terbesar di dunia berhenti menerima pemesanan kontainer berpendingin baru untuk Dalian. Saingannya dari Prancis, CMA CGM SA, mengatakan akan memungut biaya tambahan untuk kargo yang menuju ke Dalian.

Raksasa perkapalan MSC Group juga mengatakan tidak dapat membongkar muatan di Dalian, dan telah memberi tahu pelanggan bahwa kargo mereka dapat dikirim ke pelabuhan alternatif.

Kapal Rusia berisi makanan laut yang menuju ke Dalian dan Qingdao kini telah dialihkan ke Busan Korea Selatan, meningkatkan risiko pelabuhannya juga akan macet.

"Dalian dan Qingdao adalah pusat makanan laut yang sangat besar dengan industri impor, ekspor, dan pemrosesan makanan laut yang berkembang pesat," kata Gray.

Masalah ini juga akan membuat umur simpan yang lebih pendek untuk buah segar impor seperti pisang, yang biasanya tiba di Dalian untuk memasok ke China utara.

Dampak dari situasi di Dalian dan pelabuhan lainnya meluas hingga ke Amerika Serikat, di mana perusahaan menunggu kontainer berpendingin kosong untuk mengirimkan barang beku keluar dari China dan melintasi Pasifik.

Steve Kranig, direktur logistik di perusahaan pengiriman barang IM-EX Global Inc. di Wisconsin, AS, mengatakan butuh enam minggu sebelum dia dapat memesan kontainer berpendingin untuk mengirimkan pangsit berisi sup dan makanan beku lainnya dari Qingdao ke AS.

"China terus menjadi haus protein dan, pada saat yang sama, efek langsungnya akan datang ke AS, di mana pelabuhan-pelabuhan sudah penuh sesak berjuang untuk mengatasi lonjakan perdagangan," Gray.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china ikan kontainer
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top