Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Paparan rencana pengembangan Bukit Jonggol oleh BJA. - Dok. Bisnis Indonesia
Premium

Historia Bisnis: Rencana untuk Jonggol, Ibu Kota Indonesia?

16 November 2020 | 16:58 WIB
Konsorsium pengembangan Jonggol dimiliki oleh putra Kedua presiden Soeharto, Bambang Trihatmodjo, dan Kaestindo Group.

Bisnis.com, JAKARTA - Rencana pemindahan ibu kota negara di Indonesia telah dilakukan berulang kali. Namun setelah keputusan ibu kota baru ditetapkan krisis ekonomi selalu menjadi penghalang. 

Presiden Soekarno meletakkan pancang pertama pengembangan Palangkaraya. Kota baru itu ditetapkan melalui UU darurat No.10/1957 tentang Pembentukan Daerah Swatantra Propinsi Kalimantan Tengah dan Pengubahan Undang-Undang No. 25 Tahun 1956 (Lembaran-Negara No. 65 Tahun 1956). 

Tugu Soekarno hingga masterplan kota ditetapkan Bapak Proklamasi untuk Palangkaraya. Untuk tahap awal kawasan ini terlebih dahulu menjadi ibu kota provinsi karena keterbatasan dana. Selanjutnya seiring waktu berdasarkan rencana kota, kawasan ini akan diubah menjadi ibu kota negara. Namun saat itu, sulitnya medan dan kondisi lingkungan membuat pemindahan ibu kota ditunda hingga akhirnya Soekarno lengser di tengah tekanan ekonomi dan militer. 

Presiden Soeharto juga mempertimbangkan mengurangi beban Jakarta dengan mendorong kota mandiri ke luar kawasan. Hal ini ditandai dengan Kepres no. 1 tahun 1997 tentang Koordinasi Pengembangan Kawasan Jonggol Sebagai Kota Mandiri. 

Namun sebelum Keppres diterbitkan, pembahasan serius dilakukan oleh Konsorsium PT Bukit Jonggol Asri (BJA) yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh putra presiden Soeharto, Bambang Trihatmodjo, dan Kaestindo Group (Kwee Cahyadi Kumala) dengan Bappenas.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top