Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Indeks Manufaktur Amblas, Apindo : Bukan Hanya Akibat PSBB Diberlakukan Lagi

Pelaku industri menduga penurunan angka Purchasing Manager's Index (PMI) Indonesia pada kuartal III/2020 bukan hanya akibat diberlakunya kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) penuh di sejumlah wilayah.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 01 Oktober 2020  |  16:20 WIB
Suasana produksi susu di pabrik PT Greenfields Indonesia, Malang.  - greenfields
Suasana produksi susu di pabrik PT Greenfields Indonesia, Malang. - greenfields

Bisnis.com, JAKARTA - Pelaku industri menduga penurunan angka Purchasing Manager's Index (PMI) Indonesia pada kuartal III/2020 bukan hanya akibat diberlakunya kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) penuh di sejumlah wilayah.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan penurunan PMI nasional ke level 47,2 murni disebabkan oleh melemahnya pasar dalam jangka pendek. Apindo menilai menurunnya angka PMI dari posisi 50,08 per Agustus disebabkan oleh kombinasi PSBB, dan lemahnya pemulihan pasar domestik.

"Selama pelonggaran PSBB terjadi peningkatan konsumsi, tetapi tidak setinggi yang diharapkan. [Hal tersebut terjadi] khususnya karena kelas menengah enggan melakukan pengeluaran non-esensial karena kondisi [pandemi] Covid-19," kata Wakil Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani kepada Bisnis, Kamis (1/10/2020).

Shinta menilai saat ini tidak banyak langkah yang bisa dilakukan pabrikan untuk mengerek angka PMI kembali ke atas posisi 50,0. Pasalnya, lemahnya kepercayaan diri konsumen di pasar membuat pabrikan menahan ekspansi maupun inventarisir bahan baku.

Di samping itu, sektor manufaktur merupakan sektor yang paling terdampak dari adanya pandemi Covid-19. Shinta memberikan beberapa contoh kerugian yang dialami sektor manufaktur, seperti distrupsi rantai pasok, kenaikan harga bahan baku, pembatalan pembelian, dan tersendatnya pembayaran.

Selain itu, pelaku industri juga diminta oleh pemerintah untuk tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara masif. Dengan kata lain, ujar Shinta, pabrikan memilih mengalihkan arus kas ke arah mempertahankan lapangan kerja, efisiensi produksi, dan diversifikasi produksi.

"Kalau [saat ini] PMI dipaksa di atas 50,0, sementara pasarnya tidak punya confidence untuk membeli, ini berarti memaksakan pelaku usaha manufaktur untuk menanggung kerugian yang lebih besar," ucapnya.

Hasil survei IHS Markit Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia menunjukkan bahwa industri manufaktur di Indonesia pada September 2020 kembali menurun dari level bulan sebelumnya.

Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari IHS Markit menurun empat poin dari sebelumnya di level 50,8 pada Agustus 2020 menjadi 47,2 pada September 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pabrik indeks manufaktur
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top