Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pandemi Covid-19 Paksa Industri Alat Berat Makan Buah Simalakama

Permintaan alat berat pada 2021 diramalkan melonjak secara tahunan. Namun, harga batu bara yang belum membaik dan pandemi Covid-19 membuat pabrikan alat berat terpaksa harus memakan buah simalakama.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 23 September 2020  |  16:54 WIB
Alat berat merek Komatsu. Program link and match dapat meningkatkan ketersediaan tenaga kerja ahli seja awal. Istimewa
Alat berat merek Komatsu. Program link and match dapat meningkatkan ketersediaan tenaga kerja ahli seja awal. Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Permintaan alat berat pada 2021 diramalkan melonjak secara tahunan. Namun, harga batu bara yang belum membaik dan pandemi Covid-19 membuat pabrikan alat berat terpaksa harus memakan buah simalakama.

Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (Hinabi) menyatakan industri alat berat sangat membutuhkan regenerasi tenaga kerja. Namun, pandemi Covid-19 dan permintaan yang anjlok membuat sebagian pabrikan melepas tenaga kerja.

"Ini buah simalakama. Mempertahankan [tenaga kerja] jadi masalah, tidak mempertahankan [tenaga kerja] juga masalah. Tenaga kerja yang masuk ke pabrik hanya 25 persen [dari kapasitas terpasang]. Kami sudah lelah [dengan kondisi ini], cuma mau bagaimana lagi?" ujar Ketua Umum Hinabi Jamalludin kepada Bisnis, Rabu (23/9/2020).

Selain itu, saat ini arus kas pabrikan alat berat tidak lagi tertekan, tapi sudah berada di zona merah sejak awal semester II/2020. Walaupun pabrikan alat berat masih dapat bertahan, Jamalludin menyatakan banyak pabrikan pendukung industri alat berat yang sudah gulung tikar.

Sebelum pandemi Covid-19, Jamalludin menyatakan utilitas akan turun dari sekitar level 60 persen menjadi sekitar 51 persen hingga akhir tahun ini. Jamalludin menyatakan sebagian pabrikan sudah mulai mengurangi tenaga kerjanya untuk meringankan beban arus kas. 

"Total tenaga kerja industri alat berat [sekitar] 22.000 dengan kapasitas produksi [sekitar] 10.000 [unit per tahun]. Kalau sekarang [proyeksi produksi 2020] 5.000 unit, apa iya kami bertahan dengan 22.000 tenaga kerja?" ujarnya.

Namun, proyeksi produksi alat berat ini kembali turun menjadi hanya sekitar 3.000 unit pada akhir 2020. Dengan kata lain, gelombang pelepasan tenaga kerja akan semakin deras di industri alat berat nasional.

Jamalludin mendata selama 8 bulan pertama 2020 rata-rata pabrikan alat berat telah melepas sekitar 30-40 persen dari total tenaga kerjanya. Dengan kata lain, tenaga kerja pada industri alat berat telah berkurang sekitar 7.700 orang menjadi sekitar 14.300 orang.

Walau demikian, Jamaluddin berujar pabrikan masih terus menjalankan program link and match dengan sejumlah sekolah menengah kejuruan dengan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sebelumnya, program tersebut mengharuskan siswa untuk belajar dan praktek di pabrikan.

Menurutnya, program tersebut akan membantu pabrikan untuk mendapatkan sumber daya manusia saat permintaan alat berat melonjak tahun depan. Menurutnya, program tersebut dapat menyelamatkan pabrikan dari kondisi defisit tenaga kerja pada 2016.

Jamaluddin menuturkan para anggota asosiasi kesulitan mencari tenaga kerja ahli pasca pelepasan 4.000 tenaga kerja akibat penurunan pasar pada 2012. Alhasil, saat pertumbuhan lapangan usaha industri alat berat berakselerasi pada 2016, anggota menjadi kesulitan. 

Jamaluddin menyatakan kebutuhan industri alat berat akan tenaga kerja semakin penting lantaran industri batu bara diprediksi akan melaju pasca pendirian teknologi gasifikasi pada 2023. Seperti diketahui, teknologi tersebut akan menyerap  8 juta ton batu bara per tahun yang terdiri dari 5,1 juta ton diolah di pabrik dan 2,9 juta ton digunakan untuk pembangkit listrik. 

Sebelumnya, Jamalludin menilai cepatnya perubahan teknologi membuat pembaruan mesin pun semakin cepat. Hal tersebut membuat daftar keahlian yang harus dimiliki tenaga kerja pun bertambah. Maka dari itu, ujarnya, peningkatan keahlian tenaga kerja sejak dini akan membuat life cycle cost (LCC) industri akan semakin kompetitif.

Jamaluddin menambahkan LCC menjadi salah satu faktor yang membuat produk alat berat dalam negeri menjadi lebih kompetitif di pasar global. Walaupun tren digitalisasi dalam proses produksi terus meningkat, Jamaluddin berpendapat industri domestik belum dapat terlepas dengan tenaga kerja.

Jamaluddin mengemukakan program link and match dapat meningkatkan ketersediaan tenaga kerja ahli seja awal. Dia memberi contoh mengenai penggantian tenaga kerja yang sudah memiliki keahlian kelas tertinggi (grade 4) dalam proses welding. “Terus yang ada [tenaga kerja] grade 2, kayak apa itu [penurunan] kualitasnya.”

Jamaluddin berujar asosiasi akan mendorong program link and match untuk mencetak tenaga kerja di proses produksi welding, assembling, dan casting. Hal tersebut dilakukan lantaran industri alat berat didominasi oleh proses tersebut, terlebih casting yang mendominasi proses produksi 20%--30%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

alat berat pandemi corona
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top