Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

INDUSTRI ONDERDIL & PELUMAS : Covid-19 Menyerang, Adu Strategi di Ranah Digital

Di tengah pandemi virus corona atau Covid-19, sejumlah bengkel perawatan kendaraan bermotor berlomba menjaga bisnisnya tetap ‘licin’ dengan beradu strategi. Apa saja yang ditawarkan mereka?
Anggara Pernando
Anggara Pernando - Bisnis.com 02 Juli 2020  |  02:00 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Di tengah pandemi virus corona atau Covid-19, sejumlah bengkel perawatan kendaraan bermotor berlomba menjaga bisnisnya tetap ‘licin’ dengan beradu strategi. Apa saja yang ditawarkan mereka?

Di tengah pandemi virus corona atau Covid-19, sejumlah bengkel perawatan kendaraan bermotor berlomba menjaga bisnisnya tetap ‘licin’ dengan beradu strategi. Apa saja yang ditawarkan mereka?

Sebuah pesan melalui aplikasi Whatsapp masuk ke ponsel Lina (35). Sang pengirim, sebuah bengkel di bilangan Kelapa Gading mengingatkan sudah waktunya dilakukan perawatan termasuk mengganti pelumas.

“Sudah masuk waktunya servis kembali. Servis setiap 6 bulan atau kilometer maksimum 10.000, mana yang tercapai lebih dulu, untuk menjaga kenyamanan Anda,” ulas sang pengirim, Selasa, (30/6).

Bengkel yang terafiliasi dengan pabrikan itu kemudian mengarahkan Lina untuk menggunakan aplikasi milik perusahaan guna mengatur janji perawatan.

Mengarahkan pelanggan ke digital oleh para pelaku bisnis suku cadang dan perawatan kendaraan merupakan sebuah pertarungan baru.

Meski bisnis ini sebelum pandemi Covid-19 telah digunakan, namun periode ini investasi digital perusahaan mendapatkan momentum.

Apalagi ke depan, konsumen akan sangat selektif untuk tatap muka maupun keluar rumah.

PT Astra Otoparts Tbk. (AUTO) mencatat bisnis suku cadang dan perawatan kendaraan di ranah digital tumbuh 100% setiap bulannya.

Direktur Astra Otoparts Yusak Kristian Solaeman menyebutkan saat ini bisnis suku cadang dan perawatan kendaraan turut tertekan. Fokus produsen saat ini adalah menyiapkan kemudahan dan kenyamanan sehingga pelanggan dapat tetap terjaga tanpa perlu keluar rumah.

AUTO sendiri telah memiliki sejumah layanan digital. Layanan ini bahkan telah dikenalkan tahun lalu. Namun, momen pandemi Covid-19 membuat lini ini menjadi andalan. Setiap bulan, layanan digital AstraOtoShop yang menyediakan suku cadang dan dukungan pemasangan di rumah tumbuh 100 persen.

“Thanks to digital, total ytd [year to date], tekanan omzet di bawah 20%,” kata Yusak dalam diskusi yang diselenggarakan Markplus.

Yusak menyebutkan, untuk menyambut kenormalan baru itu fokus perusahaan di ranah digital tidak hanya kenyamanan pelanggan namun juga kemudahan fitur. “Istilahnya high tech dan high touch,” katanya.

Peningkatan peran layanan digital dalam bisnis suku cadang dan pelumas juga disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Pelumas Indonesia (Aspelindo) Andria Nusa.

Dia menuturkan saat ini bisnis pelumas tertekan hingga 50%. Perusahaan anggota Aspelindo telah melakukan penurunan produksi untuk mencegah kerugian.

Anggota perusahaan yang menggencarkan layanan digital termasuk melakukan pemasangan pelumas di rumah pelanggan dapat tetap meraih pelanggan walau belum sebesar yang hilang.

“Sekarang di semua marketplace, lubrikan masuk juga, meski volumenya kecil namun pertumbuhan sangat tinggi,” katanya.

Menurut Andria Nusa yang juga Direktur Utama Pertamina Lubricants itu, untuk menghadapi dampak pandemi Covid-19, para perusahaan pelumas menjalankan sejumlah strategi seperti memangkas target laba yang diikuti dengan efisiensi.

Lainnya menggandeng mitra strategis. Dalam kerja sama itu maka perusahaan pelumas dan mitra strategis sama-sama berkembang.

“Kami juga melakukan diversifikasi bisnis namun DNA-nya tetap di pelumas,” katanya.

PERILAKU KONSUMEN

Para pelaku industri suku cadang juga berfokus untuk menata ulang pembiayaan untuk mengurangi beban bunga.

Andri Pratiwa, Director Shell Lubricants Indonesia, menyebutkan bisnis baru harus berfokus langsung kepada pengguna (end user).

Pandemi Covid-19 telah mengubah perilaku konsumen. Industri suku cadang juga kehilangan momentum. Pelanggan yang sudah mengganti olinya pada awal new normal tidak akan langsung mengganti olinya sebulan kemudian untuk mengejar target volume tahunan.

Meski begitu, kata dia, konsumsi pelumas oleh industri vital masih mampu menopang bisnis perusahaan.

Industri vital yang menggunaan pelumas seperti turbin pembangkit PLN, industri sawit hingga pabrik petrokimia.

Andri menyebutkan modeling bisnis baru tidak terindarkan paska pandemi. “Sekarang semua akan bertransformasi cepat sekali,” katanya.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, sebelum pandemi kebutuhan pelumas dalam negeri mencapai 1,14 juta kilo liter per tahun, sementara kapasitas terpasangnya mencapai mencapai 2,04 juta KL per tahun.

Serapan kebutuhan pelumas nasional terdistribusikan ke sektor otomotif mencapai 781.000 KL, sementara sektor industri sebesar 127.000 KL.

Adapun pelumas yang diproduksi di dalam negeri sebesar 908.360 KL. Saat ini, terdapat 44 perusahaan produsen pelumas di dalam negeri, dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 3.157 orang.

Sementara itu, Aziz Pane, Ketua Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia menyebutkan, sebagai material berat, bisnis ban belum dapat sepenuhnya mengadopsi digital. Pihaknya masih membutuhkan bengkel sebagai saluran antara.

“Ban baru harus di spooring dan balancing agar kendaraan nyaman digunakan,” katanya.

Sedangkan perawatan ban ini hanya dapat dilakukan di bengkel guna memperoleh hasil terbaik. Penutupan tempat usaha termasuk bengkel dalam pembatasan sosial berskala besar beberapa waktu lalu, telah membuat industri ban mengalami tekanan.

Pada saat yang sama negara tujuan ekspor menutup gerbang negaranya guna mencegah penyebaran pandemi.

Industri ban Indonesia tercatat memiliki kapasitas 80 juta unit per tahun. Sedangkan produksi hanya 50 juta—55 juta. Dari produksi ini, 70% di antaranya diekspor ke 150 negara.

Meski begitu, Paul Toar dari Perhimpunan Distributor, Importir dan Distributor Pelumas Indonesia menyebutkan, krisis selalu menghasilkan model bisnis baru dan orang-orang baru dalam industri.

Hanya persoalannya, siapa yang dapat menyesuaikan dengan kebutuhan zaman baru itu?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

otomotif
Editor : Gajah Kusumo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top