Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Belum 'Move On' dari Energi Fosil, Pengembangan EBT di Indonesia Lambat

Berdasarkan Kebijakan Energi Nasional, bauran energi EBT pada 2050 ditargetkan mencapai lebih dari 31 persen sedangkan sisanya 69 persen masih berasal dari energi fosil seperti batu bara, minyak bumi, dan gas bumi.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 17 Juni 2020  |  23:36 WIB
Petugas memeriksa panel surya di PLTS Gili Trawangan -  Bisnis / David E. Issetiabudi
Petugas memeriksa panel surya di PLTS Gili Trawangan - Bisnis / David E. Issetiabudi

Bisnis.com, MANADO - Pengembangan pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia dinilai jalan ditempat dan tertinggal dari negara lain.

Fabby Tumiwa, Pengamat energi dari Institute for Essential Services Reform (IESR), menilai bahwa pemerintah masih gamang dalam mengembangkan energi terbarukan. Hal ini tercermin pada target bauran energi dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang masih didominasi oleh energi fosil.

Berdasarkan KEN, bauran energi EBT pada 2050 ditargetkan mencapai lebih dari 31 persen. Sedangkan hampir 70 persennya berasal dari batu bara, minyak bumi, dan gas bumi.

"Teknologi energi terbarukan yang semakin berkembang tidak bisa optimal karena masih ada kegamangan untuk kembangkan energi terbarukan. Masih ada kepentingan untuk kembangkan fosil fuel," ujar Fabby dalam diskusi 'Apa Kabar Ketahanan Energi Kita?' yang diselenggarakan Institut Harkat Negeri, Rabu malam (17/6/2020).

Di sisi lain, pengembangan pembangkit EBT di Indonesia juga masih berfokus pada pengembangan energi dengan pengembangan yang mahal. Misal, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP). Hal itu, lanjut Feby membuat harga listrik tidak kompetitif dengan pembangkit berbahan bakar fosil.

Tak ayal, fokus pengembangan energi di Indonesia tidak beranjak dari energi fosil yang harganya jauh lebih murah.

Padahal dalam tren global 10 tahun terakhir, kata Fabby, teknologi EBT yang semakin kompetitif harganya adalah pembangkit listrik tenaga surya dan angin. Menurutnya, negara-negara lain banyak yang memanfaatkan penurunan harga investasi energi surya dan angin untuk memacu pertumbuhan EBT.

"Bandingkan dengan Vietnam yang bisa membangun 5,5 GW pembangkit surya dalam 2 tahun dan angin sekitar 800 MW. Kita saat ini PLTS hanya 150 MW dan angin kurang dari 100 MW," kata Faby.

Selain itu, lambatnya pengembangan energi terbarukan di Indonesia juga disebabkan daya tarik investasi EBT yang masih rendah dibandingkan negara lain. Menurutnya, pemerintah harus meningkatkan daya tarik investasi EBT bila ingin mencapai target bauran EBT 23 persen pada 2025.

"Indonesia harus tingkatkan daya tarik investasi, artinya konsistensi kebijakan, framework regulasi, dan electricity market harus ditingkatkan," katanya.

Dia menjabarkan, investasi EBT di dunia dalam 10 tahun terakhir rata-rata capai US$260-US$300 miliar. Sementara itu, invesasi EBT Indonesia  kurang dari US$2 miliar dan dengan sumber daya yang melimpah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pembangkit listrik ebt
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top