Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Jaga Likuiditas, Setoran Dividen dari BUMN Seret 

Setoran dividen dari kalangan badan usaha milik negara (BUMN) menipis. Selain mengalami penurunan kinerja pada 2019, rasio dividen dikurangi demi menjaga likuiditas perusahaan di tengah iklim usaha yang lesu akibat pandemi Covid-19.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 12 Juni 2020  |  06:00 WIB
GEDUNG KEMENTERIAN BUMN Bisnis - Himawan L Nugraha
GEDUNG KEMENTERIAN BUMN Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Persoalan likuiditas yang kian ketat akibat dampak Covid-19 memaksa sejumlah emiten pelat merah untuk menurunkan rasio pembagian dividen atas perolehan laba tahun lalu.

Mayoritas emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memberikan setoran dividen yang lebih rendah atau sama dengan tahun sebelumnya. Hanya segelintir BUMN di sektor tertentu yang mengerek porsi pembayaran dividen untuk tahun buku 2019.

PT Jasa Marga (Persero) Tbk. menjadi salah satu BUMN yang menurunkan porsi pembayaran dividen pada tahun ini. Rasio pembayaran dividen ditetapkan, 5 persen atas laba 2019, paling rendah sejak 2007. Total dividen yang akan dibagikan Jas Marga mencapai Rp110,36 miliar atau Rp15,2 per saham.

Corporate Finance Group Head Jasa Marga Eka Setya Adrianto menyampaikan penurunan rasio pembagian dividen merupakan bagian dari strategi perseroan menjaga likuiditas di tengah pandemi Covid-19. Hal ini juga diperlukan untuk menjaga rencana ekspansi bisnis perseroan tetap berjalan.

“Saat ini Jasa Marga masih banyak membutuhkan likuiditas seiring dengan akan selesainya beberapa ruas baru pada 2020, apalagi di tengah pandemi Covid-19, kami perlu memperkuat likuiditas dari berbagai sumber, salah satunya dari mempertahankan laba ditahan,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (11/6/2020).

Di sektor konstruksi, hampir semua BUMN Karya menurunkan atau menahan rasio pembayaran dividen, termasuk di level anak usaha. Misal PT Adhi Karya (Persero) Tbk, hanya membagikan dividen setara 10 persen dari perolehan laba 2019. 

Pengecualian hanya terjadi pada PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. yang meningkatkan rasio pembayaran dividen dari 20 persen menjadi 22,5 persenNamun, secara nominal nilainya masih lebih rendah dari 2019, sejalan dengan koreksi laba bersih perseroan pada tahun lalu.

Kondisi yang berbeda terjadi pada BUMN di sektor perbankan, energi, dan pertambangan. Pemerintah sebagai pemegang saham memutuskan rasio pembayaran dividen meningkat di sejumlah BUMN di ketiga sektor tersebut.

Di sektor perbankan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. mengerek rasio pembayaran dividen masing-masing menjadi 60 persen. Pada tahun sebelumnya, rasio dividen BRI hanya 50 persen dan Bank Mandiri 45 persen.

Sementara itu, pada sektor energi PT Perusahaan Gas Negara Tbk. mengerek porsi dividennya hingga 107,16 persen, dari sebelumnya 31,28 persen pada tahun lalu. Secara total dividen yang dibagikan oleh perseroan mencapai sekitar Rp1 triliun.

Hal yang sama juga terjadi pada BUMN di sektor pertambangan. PT Bukit Asam Tbk. mengatrol porsi pembayaran dividen menjadi 90 persen dari sebelumnya 75 persen. Emiten berkode saham PTBA ini membagikan dividen senilai Rp3,65 triliun.

Peningkatan rasio pembayaran dividen ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) atau Inalum sebagai pemegang saham mayoritas Bukit Asam. Induk Holding BUMN Pertambangan atau MIND ID tersebut membutuhkan dana besar untuk mengakuisisi saham PT Vale Indonesia Tbk.

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan menilai peningkatan dividen pada BUMN seperti Bukit Asam memang sudah terprediksi sebelumnya. Selain sang induk membutuhkan setoran lebih, kondisi keuangan perseroan juga relatif tidak memiliki isu likuiditas.

Perseroan juga tidak memiliki ruang ekspansi yang cukup besar pada tahun ini dengan adanya pandemi Covid-19. Walhasil, rasio dividen jumbo memang dinilai sudah terprediksi, dan menjadi salah satu pendorong harga sahamya belakangan ini.

“Artinya, dalam kondisi seperti ini, rasio dividen memang bisa tetap sama atau naik pembayaran dividennya untuk PTBA. Apalagi, kalau kita lihat sebelumnya PGAS bahkan membagikan dividen sampai 100 persen,” katanya kepada Bisnis, beberapa waktu lalu.

Meski begitu, dia mengatakan tidak semua BUMN di bawah Inalum akan memberikan porsi dividen yang sama. Menurutnya, PT Timah Tbk. dan PT Aneka Tambang Tbk. memiliki kemampuan yang lebih terbatas dibandingkan Bukit Asam.

Hal ini terbukti dengan pengumuman pembagian dividen Aneka Tambang atau Antam selepas RUPS kemarin. Aneka Tambang mempertahankan rasio pembayaran dividen sebesar 35 persen dari laba bersih, yakni senilai Rp67,84 miliar.

Sementara itu, Associate Director BUMN Research Group (BRG) LM-Universitas Indonesia Toto Pranoto mengatakan bahwa strategi penentuan rasio dividen BUMN pada tahun ini tak bisa dilepaskan dari upaya menutup defisit anggaran negara.

“Semua kembali berpulang pada kebutuhan negara menutup defisit anggaran. Jadi BUMN, bluechips diminta setor lebih banyak ke negara. Kondisinya memang serba sulit, negara sebagai pemilik BUMN pasti punya pertimbangan yang urgent,” tuturnya kepada Bisnis, Kamis (11/6/2020).

Rasio Pembayaran Dividen BUMN Tahun 2019
BUMNRasio Pembayaran DividenDividen per Saham
BBRI60,29%Rp168,72
BBNI25%Rp206,24
BMRI60%Rp353,34
BBTN10%Rp1,98
JSMR5%Rp15,20
WIKA20%Rp50,96
ADHI10%Rp18,64
PTPP22,50%Rp33,84
WSKT5%Rp72,99
PTBA90%Rp316,80
ANTM35%Rp2,82

Sumber : Pengumuman masing-masing perusahaan, diolah

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMN dividen
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top