Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Seorang pekerja beraktivitas di Pabrik Garmen PT Daehan Global di Desa Cimohong, Brebes, Jawa Tengah, Jumat (29/5/2020). Menurut data Kementerian Perindustrian, proyeksi pertumbuhan industri pengolahan nonmigas pada tahun 2020 diperkirakan hanya mencapai 5,3 persen atau lebih rendah dibandingkan target pada 2019 sebesar 5,4 persen, akibat ketidakpastian ekonomi global. - ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah
Premium

Bertahan Melewati Fase Kritis Ekonomi

02 Juni 2020 | 16:51 WIB
Pandemi Covid-19 membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat. Bagaimana perkembangan aktivitas ekonomi nasional selama berlangsungnya Pembatasan Sosial Berskala Besar?

Bisnis.com, JAKARTA — Perlambatan ekonomi sebagai dampak pandemi Covid-19 tak bisa dipungkiri membuat kinerja sejumlah sektor terhambat, baik operasional maupun keuangan.

Penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat masyarakat mengerem aktivitas, sehingga berujung pada turunnya kinerja berbagai sektor. Hampir tak ada sektor usaha yang mampu menghindari hal ini.

Di sektor transportasi misalnya, terjadi penurunan jumlah penumpang yang signifikan pada beberapa moda. Masa pandemi Covid-19 yang hampir berbarengan dengan masa mudik Lebaran, yang biasanya menunjukkan lonjakan jumlah penumpang, membuat para pengusaha transportasi tak berkutik.

Pada April 2020, Ketua DPP Organda Adrianto Djokosoetono menyampaikan jumlah penumpang umum sebelum diberlakukan kebijakan pelarangan mudik disebut sudah merosot hingga 90 persen. Menurutnya, sisa penumpang yang hanya 10 persen tersebut tidak cukup untuk membayar kewajiban pengusaha, seperti bunga kredit.

Di moda transportasi udara, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. pun akhirnya mesti melakukan penyelesaian lebih awal atas kontrak kerja pegawai dengan profesi penerbang dalam status hubungan kerja waktu tertentu. Kebijakan itu dilakukan sebagai langkah berkelanjutan yang perlu ditempuh dalam menyelaraskan supply dan demand saat ini.

Pada Senin (1/6/2020), Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyebutkan pandemi virus corona telah membuat maskapai pelat merah itu mengandangkan hampir 70 persen pesawatnya. Bisnis kargo dan charter pun menjadi andalan untuk menopang pendapatan, sembari terus memangkas biaya.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top