Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

GP Farmasi: Stok Bahan Baku Menipis

Tidak hanya di Tanah Air, kelangkaan bahan baku farmasi juga terjadi di seluruh dunia lantaran China yang memasok sebagian besar bahan baku farmasi dunia tidak berproduksi pada Januari-Februari 2020.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 17 Maret 2020  |  22:12 WIB
Pekerja farmasi mengenakan sarung tangan bedah untuk melayani pelanggan yang membayar dengan uang tunai di apotek di Barcelona, Spanyol, Minggu (15/3/2020). Spanyol mengumumkan keadaan darurat segera selama 15 hari, yang secara signifikan membatasi mobilitas warga di negara tersebut. Perdana Menteri Pedro Sanchez dalam pidato menyatakan aksi tersebut bertujuan untuk menghentikan penyebaran virus corona. Bloomberg - Angel Garcia
Pekerja farmasi mengenakan sarung tangan bedah untuk melayani pelanggan yang membayar dengan uang tunai di apotek di Barcelona, Spanyol, Minggu (15/3/2020). Spanyol mengumumkan keadaan darurat segera selama 15 hari, yang secara signifikan membatasi mobilitas warga di negara tersebut. Perdana Menteri Pedro Sanchez dalam pidato menyatakan aksi tersebut bertujuan untuk menghentikan penyebaran virus corona. Bloomberg - Angel Garcia

Bisnis.com, JAKARTA - Gabungan Perusahaan Farmasi (GP Farmasi) menyatakan saat ini pasokan bahan baku di gudang industri semakin menipis.

Tidak hanya di Tanah Air, kelangkaan bahan baku farmasi juga terjadi di seluruh dunia lantaran China yang memasok sebagian besar bahan baku farmasi dunia tidak berproduksi pada Januari-Februari 2020.

Ketua GP Farmasi Tirto Kusnadi pun khawatir, pasokan obat untuk pasien virus corona tidak terpenuhi. "[Penyakit akibat] virus corona ada, tapi banyak penyakit selain corona yang membutuhkan obat. Kalau ini tidak diperbaiki, penderita corona bisa tambah banyak," katanya di Gedung Kadin, Selasa (17/3/2020).

Tirto berujar saat ini seluruh negara produsen obat tengah berkompetisi untuk mendapatkan bahan baku obat yang terbatas. Namun demikian, imbuhnya, pabrikan lokal tidak dapat ikut berkompetisi lantaran arus kas yang tersendat akibat keterlambatan pembayaran program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Tirto mendata saat ini nilai keterlambatan bayar program JKN pada pabrikan farmasi mencapai sekitar Rp6 triliun. Adapun, keterlambatan pembayaran tersebut beragam antara 3 bulan hingga 12 bulan.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif GP Farmasi Dorojatun Sanusi mencatat nilai keterlambatan pembayaran ke pabrikan telah mencapai Rp5,6 triliun-Rp6 triliun yang seharusnya jatuh tempo 6-12 bulan lalu. Oleh karena itu, Dorojatun berujar walaupun bahan baku obat (BBO) di China telah pulih kemampuan pabrikan farmasi untuk menyerap BBO saat ini rendah.

Selain itu, Dorojatun mendata mendata 60-62 persen BBO pabrikan farmasi nasional berasal dari China. Adapun, India memasok sekitar 20 persen, sedangkan selebihnya berasal dari berbagai negara.

"Tapi, India juga ketergantungan bahan baku [produksi BBO) dari China. Jadi, India juga tidak bisa men-supply karena keterbatasan [bahan baku BBO]," katanya kepada Bisnis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

farmasi bahan baku
Editor : David Eka Issetiabudi
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top