Indonesia Kembali Dorong AS Selesaikan GSP

Indonesia berharap bisa mendapatkan kembali fasilitas (Generalized System of Preferences/GSP) dari AS. Hal itu dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekspor nasional.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 14 Februari 2020  |  23:41 WIB
Indonesia Kembali Dorong AS Selesaikan GSP
Menteri Perdagangan Agus Suparmanto memberikan keterangan pers mengenai kajian pembatasan impor produk China di Jakarta, Senin (3/1). Bisnis - Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA Pemerintah Indonesia kembali mendorong Amerika Serikat untuk menyelesaikan pembahasn mengenai fasilitas keringanan bea masuk (Generalized System of Preferences/GSP) yang diberikan kepada Indonesia.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan, permintaannya mengenai penyelesaian negosiasi mengenai GSP dilakukannya saat melakukan kunjungan kerjan ke AS pada 13—15 Februari 2020 untuk bertemu dengan pemerintah dan pelaku bisnis AS.

Adapun, khusus mengenai pembahasan GSP, Mendag Agus dijadwalkan akan bertemu dengan perwakilan United States Trade Representative (USTR), Robert Lighthizer pada 13 Maret 2020.

“Pihak AS sebelumnya telah menunjukkan respons positif AS terhadap penyelesaian negosiasi GSP. Diharapkan, pada kunjungan kali ini sisa isu yang masih belum rampung terkait reasuransi dan impor produk hortikultura dapat segera diselaraskan,” katanya seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Bisnis, Jumat (14/2/2020)

Dia mengatakan Indonesia berharap bisa mendapatkan kembali fasilitas tarif preferensial dari AS agar  dapat menjadi pendorong ekspor Indonesia. Dia menambahkan GSP juga bermanfaat bagi industri AS karena dapat memperoleh produk yang berkualitas dengan harga yang kompetitif.

Berdasarkan data Kemendag, pada 2018 nilai ekspor Indonesia dari pos tarif yang mendapatkan fasilitas GSP naik 10 persen dari US$1,9 miliar menjadi US$2,2 miliar. Sementara itu pada periode Januari—November 2019, nilai ekspor dengan fasilitas GSP naik sebesar 20 persen secara tahunan dari US$2 miliar menjadi US$2,5 miliar.

Sementara itu, guna mewujudkan target peningkatan perdagangan Indonesia dan AS sebanyak US$60 miliar pada lima tahun ke depan, Mendag Agus juga berencana melakukan sejumlah pertemuan dengan pelaku bisnis AS.

Selain dengan USTR, Mendag Agus juga akan melakukan pertemuan dengan United States-Indonesia Society (USINDO) dalam rangka perayaan 70 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-AS serta beberapa importir di AS.

Pada pertemuan tersebut, Mendag Agus akan mengusulkan kedua negara perlu membuat peta jalan yang menekankan pada pendekatan praktis untuk memungkinkan arus perdagangan, baik barang maupun jasa, dan investasi yang terbaik.

Selain itu, Mendag Agus juga akan membuka peluang kolaborasi lebih besar dalam rangka mengakomodasi keinginan AS untuk menekan defisit perdagangan dengan Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor, amerika serikat

Editor : Yustinus Andri DP
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top