Tunjuk Bos Perempuan, Saham H&M Melonjak 9,4 Persen

Kekayaan pemilik ritel fesyen Hennes & Mauritz AB, atau yang dikenal dengan H&M, bertambah sebesar US$1,4 miliar setelah saham perusahaannya melonjak 9,4 persen di Stockholm.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 31 Januari 2020  |  13:18 WIB
Tunjuk Bos Perempuan, Saham H&M Melonjak 9,4 Persen
Gerai H&M pertama di Bali - Bisnis.com/Natalia Indah Kartikaningrum

Bisnis.com, JAKARTA - Kekayaan pemilik ritel fesyen Hennes & Mauritz AB, atau yang dikenal dengan H&M, bertambah sebesar US$1,4 miliar setelah saham perusahaannya melonjak 9,4% di Stockholm.

Stefan Persson, 72 tahun, belum lama ini mengumukan pengunduran dirinya sebagai chairman pada Mei mendatang dan akan digantikan oleh putranya Karl-Johan, yang saat ini berperan sebagai chief executive officer (CEO).

Posisi Karl-Johan akan digantikan oleh Helena Helmersson, menjadikannya perempuan pertama di jajaran tertinggi pengendali H&M.

Helmersson mulai karirnya di H&M sebagai ekonom di departemen pembelian pada tahun 1997, dan lima tahun sebagai manajer keberlanjutan (sustainability manager).

Sebelum ditunjuk menjadi CEO, dia menjabat sebagai chief operating officer (COO) selama lebih dari setahun.

Menurut Bloomberg Billionaires Index, lonjakan harga saham perusahaan yang berbasis di Swedia ini memperkuat posisi Persson sebagai keluarga terkaya di Swedia dengan kekayaan lebih dari US$20 miliar, seperti dikutip melalui Bloomberg pada Jumat (31/1).

Bagi Persson, penyerahan kendali kepada putranya setelah menjabat sebagai chairman selama dua dekade terakhir adalah sebuah proses yang natural.

Dia menyampaikan, keluarga Persson, dengan kepemilikan sekitar setengah dari bisnis H&M, akan tetap menjadi pemilik yang berkomitmen atas pengecer garmen terbesar kedua di dunia tersebut.

Saham H&M telah mengalami kenaikan sekitar 10% sejak Karl-Johan menjadi CEO pada 2009, lonjakan ini hampir empat kali lebih tinggi dibandingkan dengan saingannya Inditex, perusahaan ritel fesyen pemilik Zara.

Lama dikenal sebagai peritel untuk produk fesyen andalan yang terinspirasi dengan gaya kasual ala Skandinavia yang dirancang dengan baik, H&M kini harus bersaing dengan keberadaan pengecer yang menawarkan harga lebih murah serta basis online yang lebih kuat.

Sejumlah pesaing H&M seperti Primark menjual barang dengan potongan harga, sementara spesialis toko online seperti Asos Plc dan Zalando SE memberikan pelayanan instan.

H&M diketahui menutup sekitar 140 toko di seluruh dunia pada 2018 pasca hasil yang buruk di 2017. Peritel itu juga merevisi rencana pembukaan toko baru pada 2019 dari 175 menjadi 130 di seluruh dunia.

H&M melaporkan laba sebelum pajak pada Kamis (30/1) sebesar 5,4 miliar kronor atau senilai US$560 juta dalam tiga bulan yang berakhir 30 November, realisasi ini melebihi 4,8 miliar kronor yang diperkirakan para analis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fesyen, fashion

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top