Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

CoHive Optimistis Pertumbuhan Coworking Space Masih Hijau

Perkembangan perusahaan rintisan di bidang teknologi yang melambat sempat menimbulkan kekhawatiran akan mempengaruhi okupansi ruang kantor fleksibel atau coworking space
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 28 Januari 2020  |  20:19 WIB
Salah satu coworking space di Kuningan, Jakarta Selatan. - Reuters
Salah satu coworking space di Kuningan, Jakarta Selatan. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Perkembangan perusahaan rintisan di bidang teknologi yang melambat sempat menimbulkan kekhawatiran akan mempengaruhi okupansi ruang kantor fleksibel atau coworking space.

Di tengah kekhawatiran tersebut, CoHive justru masih percaya diri terhadap masa depan coworking space di Indonesia, terutama di Jakarta yang diproyeksi masih panjang.

Co-Founder sekaligus CEO CoHive Jason Lee mengatakan bahwa potensi pasar properti coworking space di Indonesia sebetulnya masih sangat besar. Hal itu terlihat dari banyaknya perusahaan asing yang melirik peluang pasar di Indonesia.

“Sebenarnya banyak sekali perusahaan yang mau investasi di Indonesia, terlebih untuk beberapa tahun ke depan. CoHive sendiri juga merasakan, karena pertumbuhannya ternyata jauh di atas ekspektasi kami,” kata Lee di sela pembukaan cabang CoHive ke-37 di Sahid Sudirman Residence, Jakarta, Selasa (28/1/2020). 

Lee menyebut, coworking space sudah menjadi kebutuhan krusial untuk perusahaan rintisan dan pengusaha bisnis konvensional. Pasalnya, saat ini Indonesia telah memasuki era industri 4.0 sehingga kolaborasi antar berbagai pemangku kepentingan dan sektor bisnis sangatlah diperlukan.

“Ke depannya akan lebih banyak pengusaha yang diprediksi menggunakan coworking space untuk menarik dan tetap dilirik oleh para profesional muda yang mampu mengembangkan inovasi digital dengan cepat,” sambungnya. 

Kepercayaan diri CoHive juga diperkuat dengan jumlah coworking space di Indonesia yang pangsanya kurang dari 5 persen dari keseluruhan pasok properti ruang kantor.

Jumlah itu masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan negara-negara lainnya seperti di Amerika Serikat yang sudah mencapai 10 persen dan di Inggris yang sudah mencapai 15 persen.

Lee menegaskan, perlambatan perkembangan perusahaan rintisan dari sektor teknologi juga tak akan menyurutkan minat pada penggunaan coworking space. Pasalnya, masih banyak perusahaan dari berbagai sektor yang memiliki minat tinggi untuk menggunakan ruang kantor bersama.

“Sekarang beberapa perusahaan besar seperti perbankan, telekomunikasi, sampai media sudah banyak yang mulai punya keinginan untuk pindah ke kantor bersama. Kemudian, banyak juga perusahaan rintisan di bidang ritel yang juga mulai banyak mengajukan permintaan untuk menyewa di coworking space,” ungkapnya.

Sementara itu, dengan tambahan area seluas 2.200 meter persegi di CoHive Sahid Sudirman Residence, jumlah keseluruhan lahan yang dimiliki penyedia ruang kerja fleksibel itu telah mencapai lebih dari 75.000 meter persegi. Adapun, pada saat diluncurkan, okupansinya telah mencapai lebih dari 70%.

Hingga saat ini, CoHive telah mempunyai lebih dari 9.500 member dari 1.100 perusahaan yang menyewa ruangan di CoHive yang tersebar di 37 lokasi di enam kota besar yakni Jakarta, Tangerang, Bali, Medan, Yogyakarta, dan Surabaya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perkantoran pasar properti perusahaan rintisan coworking space
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top