Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tahun Ini, Pasar Properti Asia Pasifik Masih Hadapi Guncangan

Sydney diperkirakan menjadi kota yang memimpin pertumbuhan dengan kenaikan nilai hunian hingga 6 persen.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 20 Januari 2020  |  18:15 WIB
Sydney, Australia - Istimewa
Sydney, Australia - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Perlambatan pasar properti sepanjang 2019 tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga secara global. Namun, Savills memprediksi tahun ini akan ada perbaikan meski tak banyak.

Analyst Savills World Research Sean Hyett menyebutkan bahwa di Asia Pasifik, ketidakpastian yang terjadi di pasar properti residensial diperkirakan masih terjadi pada 2020. Sydney diperkirakan menjadi kota yang memimpin pertumbuhan dengan kenaikan nilai hunian hingga 6 persen.

“Pertumbuhan itu didorong oleh rendahnya suku bunga, naiknya tingkat imigrasi, dan terus bertumbuhnya tingkat permintaan,” ungkap Hyett melalui laporan tertulis yang diterima Bisnis, Senin (20/1/2020).

Namun, pasar properti di Sydney disebut tetap rentan terhadap ketidakpastian global, adanya kenaikan harga juga akan mendapat respons dari pasar sehingga ada kemungkinan harganya lebih fluktuatif.

Kondisi adanya kebakaran besar dalam jangka pendek akan memberi pengaruh karena hingga saat ini kebakaran tersebut jua sudah mulai memengaruhi pertumbuhan produk domestik bruto nasional Australia.

“Akan tetapi, diprediksikan tidak akan membuat harga properti di kota besar turun, terutama untuk kelas menengah dan menengah atas. Namun, kebakaran tersebut pastinya akan menghambat pertumbuhan di daerah terdampak,” ujar Hyett.

Selanjutnya, Singapura dan Tokyo tercatat memiliki pasar yang lebih stabil. Meskipun ada rintangan dari segi demografi di Jepang, Tokyo tetap berkinerja baik dengan perekonomian yang baik pula.

“Di pasar residensial, kelas hunian mewah masih akan terus bertumbuh. Permintaan pada kelas properti tersebut terus menguat, sedangkan pertumbuhan pasoknya melambat mengikuti permintaan yang ada.”

Di Singapura, penjualannya secara umum dalam kondisi baik pada 2019, terdorong oleh peningkatan daya beli dari warga lokal dan minat pembeli dari warga internasional. Namun, kenaikan harganya diperkirakan tipis pada 2020.

Kemudian, China diperkirakan mencatatkan pertumbuhan yang positif pada 2020, tapi dengan pertumbuhan di satu digit selama setahun, berbeda dari catatan pertumbuhan dua digit yang dialami sepanjang 2013–2017.

“Beijing dan Shenzen diperkirakan mencatatkan pertumbuhan paling datar, hanya 1 persen, sedangkan Shanghai diproyeksikan tumbuh 2 persen—3,90 persen. Kemudian Guangzhou dan Hangzhou diperkirakan tumbuh 4 persen—5,9 persen,” ungkap Hyett.

Di Bangkok dan Kuala Lumpur, juga diproyeksikan ada koreksi harga karena penurunan minat investor yang cukup signifikan dan ketidakpercayaan diri pada pasar.

Namun, melihat secara umum sektor propertinya terkenal di kalangan ekspatriat, nilai properti di kedua kota tersebut diprediksi tetap stabil atau hanya turun tipis sepanjang 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asia pasifik pasar properti
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top