Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Edhy Prabowo Ragukan Kebenaran Nelayan Natuna Tolak Kapal Pantura

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo meragukan kebenaran nelayan Natuna menolak kapal dari Pantura Jawa.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 16 Januari 2020  |  21:03 WIB
Perairan Natuna, Kepulauan Riau. - Reuters/Tim Wimborne
Perairan Natuna, Kepulauan Riau. - Reuters/Tim Wimborne

Bisnis.com, JAKARTA – Kabar penolakan nelayan Natuna, Kepulauan Riau, dengan rencana mobilisasi nelayan dari Pantai Utara (Pantura) Pulau Jawa ditanggapi Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.

Dia mempertanyakan apakah benar keluhan tersebut disampaikan nelayan Natuna. "Yang mana? Anda ke Natuna nggak? Sudahlah jangan diperpanjang, itu urusan sayalah," ujarnya saat ditanya awak media di Kantor Kemenko Maritim dan Investasi, Jakarta, Kamis (16/1/2020).

Kendati demikian, Edhy menegaskan akan memprioritaskan nelayan di Natuna sebelum ada mobilisasi nelayan dari Pantura. Kekuatan para nelayan di Natuna akan dibangun.

Oleh karena itu, isu yang beredar saat ini terkait penolakan nelayan Natina hanyalah kekhawatiran semata. "Faktanya seluruh daerah itu nelayan Jawa yang banyak ngisi. Karena perusahaan itu banyaknya di sini. Ini hanya masalah kekhawatiran."

Edhy mengaku sudah memberi penjelasan kepada nelayan Natuna sehari sebelum kedatangan Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu. Dia mengklaim sudah tidak ada lagi masalah terkait hal ini.

Politikus Partai Gerinda ini menerangkan masih ada potensi 305 kapal rata-rata 100 GT yang bisa dioperasikan di perairan Natuna. Namun, ukuran kapal yang bisa menggarap potensi di laut tersebut masih dihitung.

"Karena laut tinggi, kapal Orca kita itu 60 meter panjangnya, tapi ombak yang begitu, susah masuk. Bagaimana kapal yang 100 GT. Itu yang jadi itungan kita. Kita mau ramaikan perbatasan dengan hitungan sustainable di sektor perikanan," tuturnya.

Meski membuka peluang kapal di atas 100 GT berlayar di perairan Natuna, Edhy mengaku tidak akan sembarangan memberikan izin. "Jor-joran kasih izin, tapi ujungnya malah kita gak bisa tangkap ikan lagi di situ.”

Edhy menyebut tercatat ada 12,5 juta ton potensi ikan tangkap di laut Indonesia. Saat ini yang baru dioptimalkan sekitar 8 juta ton. Masih ada sisa 4,5 jutaan ton.

Namun dari potensi 4,5 juta ton ikan tersebut, tidak bisa dimanfaatkan secara keseluruhan. Asumsinya yang bisa dimanfaatkan sekitar 80% dari jumlah tersebut, sisanya untuk keberlanjutan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

natuna nelayan
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top