Ayo Jualan Ala Semarang!!

Warga Semarang satu kata dalam mempromosikan pariwisata daerahnya. Patut dicontoh.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 15 Januari 2020  |  16:52 WIB
Ayo Jualan Ala Semarang!!
Simpang Lima Semarang, Jawa Tengah - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Menyebut Semarang di peta pariwisata Jawa mungkin tak dapat disebut di urutan teratas. Namun, dengan potensi tak seberapa dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Jawa, ibu kota Provinsi Jawa Tengah ini merupakan destinasi yang layak dikunjungi.

Dengan ragam budaya dan pesona alam, seluruh wilayah Nusantara layak mengedepankan pariwisata sebagai sektor penggali pemasukan dan penggerak perekonomian hingga lapisan masyarakat terbawah.

Boleh jadi mencontohkan Semarang yang membangkitkan perekonomiannya dari pariwisata tak bermakna dibandingkan dengan beberapa daerah lain. Namun, di sisi lain, bagi banyak daerah lagi, boleh jadi Semarang contoh bagus.

Dengan keterbatasan potensi destinasi wisata dibandingkan dengan wilayah sekitarnya, sebut saja Yogyakarta, yang merupakan destinasi papan atas, Semarang mampu mengidentifi kasi dirinya demi menentukan apa yang layak dikedepankan ke turis dalam dan luar negeri.

Semarang seperti menganut kata bijak: yang bahaya bagi setiap diri bukannya tidak punya potensi, namun tak tahu bahwa dia punya potensi. Tuhan telah melengkapi setiap diri—dalam konteks ini semua wilayah—dengan potensi, sekecil apa pun.

‘Bahaya’ jika tak mengembangkan diri lantaran tak tahu ada potensi. Lebih bahaya lagi jika tahu potensi, tetapi enggan meng eksploitasinya. Di Semarang saja, kita akan dapat menikmati sejumlah destinasi.

Mungkin tampak biasa, tetapi dengan polesan memadai dan woroworo seluruh lapisan masyarakatnya, di kota itu saja kita akan dapat menyambangi sejumlah tempat yang memang layak dikunjungi.

Bisa jadi tempat-tempat seperti Toko Oen, Masjid Agung, Klenteng Sam Poo Kong, Gereja Blenduk, pasar barang antik Padangrani, Tugu Muda, Lawang Sewu, pasar malam Pecinan Semawis, deretan penjual oleh-oleh Pandanaran, berbagai toko lumpia, atau Simpang Lima merupakan tempat-tempat yang relatif biasa.

Namun, dengan polesan yang dilengkapi woro-woro alias pengumuman yang satu hati disuarakan ber bagai lapisan masyarakat, Semarang pun menjadikan tempat-tempat itu semua layak dijual.

Kesatu hatian segenap warga Semarang—dari pengayuh becak, sopir taksi, hingga warga kelas atas—yang dicerminkan dengan isi woro-woro yang seragam merupakan contoh yang layak diteladani daerah lain.

Segenap warga Semarang punya pandangan yang sama tentang kotanya sebagai tujuan wisata di tengah persaingan dengan Bali atau Yogyakarta yang memang berada di papan atas destinasi turis dari berbagai belahan dunia.

Contoh bagus yang diperlihatkan Semarang ialah dengan keterbatasan objek wisatanya, kota ini bisa memandang bahwa Yogyakarta atau kota-kota lain di dekatnya bukan saingan yang akan menyisihkannya dalam berebut turis, sebaliknya melihat kedatangan turis.

Sekali lagi, boleh saja warga beberapa kota lain melihat contoh Semarang terlalu kecil daripada mereka yang telah lebih maju memasarkan wilayahnya sebagai tujuan wisata. Namun, di sisi lain, masih banyak pula daerah lain yang belum sesemarak

Semarang dalam memasarkan potensi yang sebenarnya telah ada. Contoh saja, tanpa harus menyebut daerah tertentu, masih cukup banyak daerah yang dianugerahi Tuhan pantai-pantai yang indah, tetapi tak membangun infrastruktur memadai yang memudahkan untuk mencapainya.

Masih ada daerah yang sebenarnya memiliki tempat yang tanpa perencanaan menjadi sentra makanan khas, tetapi kurang ‘mengumumkannya’ ke berbagai daerah lain.

Masih ada daerah dengan perbukitan indah dilengkapi pandangan luas melihat keindahan perairan di sekitarnya, tetapi tak memaksimalkannya sebagai tujuan wisata yang bisa menjadi tempat singgah yang elok. Indonesia begitu kaya dari banyak sisi seperti alam, budaya, ataupun kuliner.

Ada negara lain bisa hidup hanya dengan satu sektor: pariwisata. Jadi, yuk kita maksimal jualan, jualan ala Semarang!

*) Artikel ini telah dimuat di edisi cetak Bisnis Indonesia 1 Maret 2017

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kota semarang, pariwisata

Editor : M. Syahran W. Lubis
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top