Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekspansi Mulai Jenuh, Perkembangan Coworking Space Minim

Hal ini disampaikan Manager Research & Consultancy Coldwell Banker Commercial Angra Angreni, bahwa pemain coworking space besar saat ini umumnya menempati gedung perkantoran di wilayah pusat bisnis (CBD) yang lokasinya strategis, hal ini membuat ekspansinya harus keluar dari wilayah tersebut.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 13 Januari 2020  |  01:54 WIB
Salah satu coworking space di Kuningan, Jakarta Selatan. - Reuters
Salah satu coworking space di Kuningan, Jakarta Selatan. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Permintaan pada perkantoran fleksibel atau coworking space memang dipercayai masih akan terus bertumbuh seiring dengan perkembangan industri dan teknologi yang juga semakin pesat. Namun, khusus di pusat kita seperti Jakarta, pekembangannya dinilai sudah mulai jenuh.

Hal ini disampaikan Manager Research & Consultancy Coldwell Banker Commercial Angra Angreni, bahwa pemain coworking space besar saat ini umumnya menempati gedung perkantoran di wilayah pusat bisnis (CBD) yang lokasinya strategis, hal ini membuat ekspansinya harus keluar dari wilayah tersebut.

“Karakteristik coworking space di luar CBD sendiri berbeda. Biasanya coworking space di luar CBD hanya sebagai pelengkap pengembangan seperti bagian dari ruko, ritel, kampus, atau bahkan dari pengembangan kompleks perumahan. Di sini kebutuhan akan coworking space sudah beda,” jelasnya kepada Bisnis, Minggu (12/1).

Namun, secara umum coworking space masih akan terus berkembang dengan pemain-pemain baru akan terus tumbuh dan bermunculan. Dimulai dengan kapasitas hanya dapat menampung 10 orang hingga yang dapat menampung ratusan orang.

Perkembangannya juga masih akan sejalan dengan perkembangan perusahaan rintisan dan perkembangan teknologi yang tidak dapat dihetikan.

Adapun, dengan coworking space yang semakin menjamur dan dengan ukuran lebih kecil cowowrking space tidak hanya bisa digunakan sebagai ruang usaha dan bekerja, tapi juga dijadikan sebagai tempat rapat, hingga tempat mengerjakan tugas oleh pelajar, workshop, bahkan tempat ‘me time’.

Dari segi tenant, menurut Angra, pengisi coworking space tak akan hanya terbatas pada perusahaan rintisan teknologi. Sehingga, apa yang dikhawatirkan akan penurunan investasi pada perusahaan rintisan teknologi tidak akan banyak mempengaruhi pertumbuhan keterisian coworking space.

“Niche market coworking space sangat beragam, fleksibilitas yang ditawarkan coworking space menjawab kebutuhan pengusaha startup. Ditambah lagi dengan semangat kebanyakan pengusaha sekarang terutama milenial saat ini untuk do something from small,” jelas Angra.

Kemudian, perusahaan yang berpotensi mendongkrak keterisian coworking space juga sangat bervariasi, selain dari perusahaan yang sudah besar dan membutuhkan alternatif ruang usaha, juga untuk jenis usaha baru seperti UKM (usaha kecil menengah).

Mayoritas pengguna coworking space juga selain berasal dari pengusaha startup, juga berasal dari pekerja independen, profesional, entrepreneur, pekerja yang berkantor di ruko, hingga mahasiswa dan pelajar yang kebanyakan berasal dari kalangan muda.

“Untuk proyeksi pertumbuhan berapa persen agak sulit dihitung memang karena sistem sewanya tidak seperti gedung perkantoran yang dapat dihitung berdasarkan jam kerja, tapi jelas pertumbuhan penggunanya juga akan terus bertambah.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

coworking space
Editor : Andhika Anggoro Wening
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top